Kilang Minyak di Asia Ramai-Ramai Pangkas Produksi, Indonesia Termasuk


Senin, 23 Maret 2026 | 20:52 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini meluas ke sektor energi global. Dampaknya ribuan kilang minyak dan petrokimia di Asia terpaksa memangkas produksi, menunda operasional, bahkan mengumumkan force majeure.

Menurut Reuters, lebih dari 60% pasokan nafta bahan baku utama petrokimia untuk Asia berasal dari Timur Tengah. Ketika jalur distribusi lewat Selat Hormuz terganggu, rantai pasokan terhenti.

Cadangan bahan baku biasanya cukup satu bulan, sementara restart fasilitas seperti steam cracker memerlukan dua minggu. Akibatnya, pabrik-pabrik di seluruh Asia harus cepat?cepat mengurangi pasokan ke pelanggan.

Di China, perusahaan milik negara Sinochem memangkas kapasitas kilang di Quanzhou hingga 60% untuk mengantisipasi kekurangan minyak mentah. Sinopec juga menurunkan produksi lebih dari 10% bulan ini, setara 600.000–700.000 barel per hari.

Wanhua Chemical mengumumkan force majeure bagi pelanggan Timur Tengah, dan kolaborasi Shell?CNOOC berencana menutup fasilitas di Huizhou karena gangguan pasokan.

Jepang mengalami penurunan operasional kilang menjadi 69% dari level sebelumnya di atas 80%. Mitsui Chemicals dan Mitsubishi Chemical mengurangi produksi etilena karena terbatasnya nafta.

Situasi serupa terasa di Korea Selatan, Taiwan, dan India, di mana perusahaan?perusahaan besar mempertimbangkan penghentian produksi bila stok menipis.

Di Malaysia, kilang Prefchem (kerjasama Petronas?Saudi Aramco) terpaksa menghentikan unit operasional. Singapura juga tidak luput ExxonMobil menurunkan kapasitas hingga 50% dari level sebelumnya.

Di Indonesia, produsen petrokimia nasional Chandra Asri mengumumkan force majeure untuk seluruh kontraknya karena pasokan bahan baku dari Timur Tengah terganggu.

Bahrain (Bapco Energies) dan Thailand (Rayong Olefins) sudah menetapkan kondisi darurat. Vietnam meminta prioritas pasokan minyak domestik untuk menjaga ketahanan energi nasional. Semua langkah ini menegaskan betapa rapuhnya rantai pasokan energi Asia terhadap gangguan di Selat Hormuz.

Jika gangguan berlanjut, harga energi global dapat melambung, menambah beban pada industri manufaktur dan konsumen. Asia, yang mengonsumsi lebih dari setengah kebutuhan energi dunia, berisiko mengalami krisis energi regional yang mempengaruhi inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas sosial.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved