Konflik Timur Tengah Mengancam Krisis Pangan Dunia


Senin, 23 Maret 2026 | 22:30 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Baru-baru ini, World Food Programme (WFP) mengeluarkan peringatan keras: konflik di Timur Tengah bisa memicu lonjakan jumlah orang yang mengalami kelaparan akut ke level rekor pada 2026. Bayangin, hampir 45 juta orang tambahan berpotensi masuk dalam kategori rawan pangan!

Kenapa ini bisa terjadi? Kalau konflik terus berlarut dan harga energi dunia tetap tinggi, biaya produksi pangan naik drastis. Dampaknya harga makanan melambung, logistik jadi mahal, dan rantai pasok global terganggu. Kita udah lihat contoh nyata saat perang Rusia?Ukraina 2022, inflasi pangan melanda hampir semua negara.

Di Indonesia, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa ancaman krisis pangan memang nyata. Ia mengingatkan, setiap negara harus memperkuat ketahanan pangan masing?masing. Karena kalau satu titik lemah, efek dominonya akan terasa di seluruh dunia, terutama bagi negara yang sangat bergantung pada impor pangan.

Menurut Amran, produksi beras nasional sudah surplus, mencapai sekitar 34,7 juta ton—naik 13% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Cadangan beras pemerintah (CBP) pun sudah melampaui 4 juta ton. Ini jadi bukti kalau upaya pembangaunan pertanian mulai menunjukkan hasil.

Tapi, jangan salah sangka. Surplus beras tidak otomatis menghilangkan risiko. Kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, serta biaya logistik yang melonjak tetap bisa memicu inflasi pangan, bahkan di negara yang punya surplus. Jadi, ketahanan pangan bukan cuma soal kuantitas, tapi juga soal stabilitas harga dan aksesibilitas.

Krisis pangan global berdampak langsung pada harga bahan pokok di pasar lokal. Kalau harga beras naik, dompet keluarga akan terasa lebih tipis, terutama bagi mereka yang pendapatannya terbatas. Selain itu, kelaparan akut dapat memicu ketidakstabilan sosial dan menurunkan produktivitas nasional.

Berita baiknya, pemerintah sudah menyiapkan langkah konkret. Selain memperkuat produksi dalam negeri, ada kebijakan pengendalian harga bahan pokok, penarikan izin perubahan lahan sawah ke pemerintah pusat, dan program bantuan pangan seperti yang dilakukan Bulog untuk 32 juta KPM pada periode Februari?Maret.

Namun, tantangan tetap ada. Konflik geopolitik antara Iran, Amerika, dan Israel, serta fluktuasi harga energi global, tetap menjadi faktor pengganggu. Oleh karena itu, Indonesia harus terus meningkatkan cadangan strategis, diversifikasi sumber pangan, dan memperkuat jaringan logistik domestik.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved