Ketegangan di Selat Hormuz mulai terasa sampai Indonesia setelah kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan masih berada di kawasan Teluk Persia, sementara pemerintah menyiapkan skenario darurat untuk mengalihkan impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Salah satu kapal PIS, Gamsunoro, disebut berada di sekitar Selat Hormuz dan tengah proses loading di Pelabuhan Khor al Zubair, Irak; tiga kapal lain yakni Pertamina Pride di Ras Tanura (selesai loading), PIS Paragon di Oman (proses discharge), dan PIS Rinjani di Khor Fakkan, UEA. Dari empat kapal itu, dua—Pertamina Pride dan Gamsunoro—masih berada di area Teluk Persia, dan PIS menegaskan terus memantau situasi serta berkoordinasi dengan otoritas setempat dengan prioritas utama keselamatan kru.
Dari sisi dampak, pemerintah mengakui risiko gangguan pasokan dan lonjakan harga tetap terbuka karena sekitar 25% impor crude Indonesia selama ini berasal dari Timur Tengah, sementara konsumsi minyak domestik sekitar 1,5 juta barel per hari dan produksi dalam negeri belum menutup setengahnya. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan opsi crude alternatif sudah diamankan dan bila diperlukan pasokan bisa dialihkan ke Amerika Serikat, sekaligus sejalan dengan komitmen pembelian energi dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade Indonesia–AS senilai US$15 miliar. Namun tekanan ekonomi tetap nyata: jika harga minyak naik dan dolar menguat, pemerintah menghadapi dilema antara menahan BBM lewat subsidi (membengkakkan beban APBN) atau melepas harga ke pasar (memperkuat inflasi), yang pada akhirnya bisa menekan rupiah dan daya beli—sehingga fokus kebijakan sekarang adalah menjaga pasokan tetap aman tanpa membuat fiskal dan inflasi lepas kendali.
#SelatHormuz #Pertamina #PIS #MinyakMentah #EnergiIndonesia #BahlilLahadalia #APBN #BBM #Inflasi #Rupiah #Geopolitik #KontanNews