Plin-Plan! Tujuan Perang AS ke Iran Berubah-ubah, Target Nuklir atau Ganti Rezim?


Rabu, 04 Maret 2026 | 21:45 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Arah kebijakan militer Amerika Serikat terhadap Iran kini diselimuti tanda tanya besar.

Dalam waktu kurang dari 48 jam, Presiden Donald Trump dan para sekutunya menyampaikan pernyataan yang saling bertentangan soal tujuan dan durasi perang.

Apakah Washington hanya ingin melumpuhkan program nuklir Iran
tau justru mendorong pergantian rezim di Teheran?

Kebingungan ini memicu spekulasi: apakah Gedung Putih benar-benar punya strategi yang jelas?

Serangan militer A-S terhadap Iran dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026. Namun sejak itu, pesan dari Washington berubah-ubah.

Pada Minggu pagi, Senator Lindsey Graham—sekutu dekat Trump—menyatakan bahwa fokus utama A-S adalah mengurangi ancaman nuklir dan rudal Iran, bukan mengganti rezim.

Gedung Putih sempat mempertegas narasi tersebut.

Dalam wawancara dengan majalah The Atlantic, Trump bahkan menyatakan dirinya terbuka untuk berdialog dengan kepemimpinan Iran saat ini guna mengakhiri perang, selama tuntutan A-S dipenuhi.

Namun hanya beberapa jam kemudian, Trump kembali ke nada berbeda.

Lewat sebuah video, ia justru menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih negara dari rezim yang berkuasa, dan berjanji Amerika akan membantu.

Pesan yang berubah cepat ini memicu pertanyaan: sebenarnya apa tujuan akhir Washington?

Ketidakkonsistenan juga terlihat pada estimasi lamanya operasi militer.

Melalui media sosial, Trump awalnya menyebut serangan akan berlangsung selama seminggu atau lebih.

Namun sehari kemudian, kepada Daily Mail, ia menyebut konflik bisa berlangsung hingga empat pekan.

Perbedaan ini memperkuat kesan bahwa strategi A-S masih terus berubah.

Justin Logan dari Cato Institute menilai pemerintah A-S tidak menunjukkan kejelasan dalam perang ini.

Menurutnya, kebijakan Gedung Putih terlihat seperti improvisasi di tengah situasi genting.

Sementara itu, mantan negosiator Timur Tengah A-S, Dennis Ross, menilai jalan paling aman secara politik bagi Trump adalah mengklaim kemenangan cepat.

Trump bisa menyatakan telah melemahkan kemampuan nuklir Iran, melumpuhkan angkatan lautnya, dan membuat Ali Khamenei membayar harga—tanpa harus memastikan oposisi benar-benar mengambil alih kekuasaan.

Namun skenario pergantian rezim menyimpan risiko besar.

Badan intelijen A-S memperingatkan bahwa jika Khamenei benar-benar tumbang, kekuasaan justru bisa jatuh ke tangan faksi garis keras dari Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC.

Nama lain yang mencuat adalah Ali Larijani, tokoh senior Iran yang dilaporkan melakukan perjalanan diplomatik ke Oman dan Rusia. Ia disebut-sebut sebagai kandidat potensial penerus jika terjadi transisi kekuasaan.

Trump sendiri mengakui telah menerima pesan diplomatik melalui Oman dan membuka peluang untuk berbicara.

Namun risiko kegagalan tetap membayangi.

Mantan negosiator Aaron David Miller memperingatkan bahwa Trump bisa saja berakhir tanpa pergantian rezim, tanpa kesepakatan, dan tanpa hasil nyata—sementara janji sudah terlanjur diberikan kepada rakyat Iran.

Kini dunia menanti arah pasti dari Washington.

Apakah perang ini akan menjadi operasi militer terbatas yang berakhir cepat
taukah berubah menjadi konflik panjang dengan tujuan mengganti rezim Iran?

Yang jelas, inkonsistensi pesan dari Gedung Putih telah menambah ketidakpastian di kawasan yang sudah lama menjadi titik panas geopolitik dunia.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved