Cadangan BBM RI Cuma untuk 20 Hari, Ini yang Terjadi Jika Perang Berlarut-larut


Rabu, 04 Maret 2026 | 22:07 WIB | dilihat

Cadangan BBM Indonesia disebut hanya cukup untuk sekitar 20 hari, menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran. Stok tersebut berasal dari pembelian sebelum konflik memanas, sehingga bila perang berlarut dan harga minyak dunia terus naik, Indonesia terpaksa membeli pasokan baru di pasar internasional dengan harga lebih mahal. Pengamat energi UGM Fahmy Radhi mencatat pada 2 Maret 2026 harga minyak Brent sudah naik menjadi US$77,74 per barel—melonjak 6,7% dalam sehari—sementara WTI mencapai US$71,23 per barel dan berpotensi menembus US$100 per barel jika konflik berlanjut.

Tekanan harga minyak ini berisiko menimbulkan dampak domino di dalam negeri. Direktur CELIOS Bhima Yudhistira memperingatkan kemungkinan antrean panjang di SPBU, penimbunan hingga pasar gelap BBM, gangguan transportasi, bahkan risiko pemadaman listrik karena pembangkit masih bergantung pada bahan bakar fosil. Sementara itu Pertamina melalui Satgas RAFI memastikan pasokan energi terus dipantau selama Ramadan untuk menjaga kelancaran distribusi, sementara pemerintah dihadapkan pada kebutuhan mempercepat transisi energi karena porsi energi terbarukan saat ini baru sekitar 13% dari total pembangkit listrik nasional.

#BBM #CadanganEnergi #BahlilLahadalia #HargaMinyak #Brent #EnergiIndonesia #Pertamina #CELIOS #TransisiEnergi #KontanNews


Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved