KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Ketegangan di Timur Tengah mulai membuat pemerintah Indonesia waspada.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, mengingatkan bahwa perekonomian Indonesia bisa terkena tekanan serius jika harga minyak dunia melonjak hingga 100 dollar AS per barel.
Saat ini harga minyak sudah berada di kisaran 78 dollar AS per barel, lebih tinggi dari asumsi pemerintah dalam APBN 202
ang hanya mematok 70 dollar AS per barel.
Jika kenaikan terus berlanjut, dampaknya bisa langsung terasa pada anggaran negara hingga harga energi di dalam negeri.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui akun Instagram pribadinya, Luhut menegaskan bahwa kenaikan harga minyak harus diwaspadai.
Ia mengatakan ekonomi Indonesia bisa terdampak jika harga minyak dunia naik bertahap hingga 100 dollar per barel.
Saat ini harga minyak berada di sekitar 78 dollar, sementara pemerintah menyusun APBN dengan asumsi 70 dollar per barel.
Artinya, selisih harga tersebut berpotensi menambah tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Luhut juga menyoroti situasi di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi energi dunia.
Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur ini setiap hari.
Jika konflik antara Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya semakin memanas, gangguan di jalur ini bisa memicu lonjakan harga minyak dunia.
Beberapa analis bahkan memperkirakan harga minyak bisa menembus 90 hingga 100 dollar per barel jika distribusi energi terganggu.
Luhut juga menyoroti soal ketahanan cadangan energi nasional. Ia mengatakan pemerintah harus memastikan berapa lama cadangan minyak Indonesia bisa bertahan jika terjadi gangguan pasokan global.
Menurutnya, data yang beredar saat ini masih bervariasi. Ada yang menyebut cadangan energi Indonesia cukup untuk 30 hari
amun ada juga yang memperkirakan hanya sekitar 18 hari.
Karena itu, pemerintah diminta melakukan perhitungan yang lebih akurat untuk menyusun strategi menghadapi kemungkinan krisis energi.
Selain menghitung cadangan energi, pemerintah juga mulai mempertimbangkan diversifikasi sumber impor minyak.
Beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan antara lain impor dari Amerika Serikat, Venezuela serta sejumlah negara di Afrika.
Namun menurut Luhut, strategi tersebut juga harus memperhitungkan faktor logistik dan biaya transportasi agar tidak justru menambah beban bagi APBN.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini bukan hanya isu politik global. Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak bisa berdampak langsun
ada anggaran negara, harga energi, hingga daya beli masyarakat.
Karena itu pemerintah kini mulai menyusun berbagai skenario untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Jika harga minyak benar-benar menembus 100 dollar per barel, pertanyaannya:
Apakah ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menahan guncangan tersebut?
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________