Harga minyak dunia melonjak sekitar 23% dalam satu hari dan mencapai level tertinggi sejak akhir 1980-an, dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi global. Pada perdagangan Senin, 9 Maret, minyak Brent tercatat sekitar US$114,36 per barel sementara WTI mencapai US$115,11. Ketegangan meningkat setelah perubahan kepemimpinan di Iran serta risiko gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah—membuat kapal tanker enggan melintas dan memperketat pasokan global.
Lonjakan harga energi ini langsung mengguncang pasar keuangan dunia. Indeks saham utama di Asia seperti Nikkei dan KOSPI turun tajam, sementara pasar Amerika Serikat dan Eropa juga melemah seiring kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi. JPMorgan memperkirakan harga Brent bisa mendekati US$120 per barel jika konflik berlanjut, dan lonjakan energi berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi global serta menambah tekanan inflasi. Kenaikan harga minyak bukan hanya memengaruhi pasar finansial, tetapi juga berisiko meningkatkan biaya transportasi, harga barang konsumsi, dan tekanan pada mata uang negara-negara pengimpor energi.
#HargaMinyak #Brent #WTI #SelatHormuz #TimurTengah #PasarGlobal #Inflasi #ResesiGlobal #Geopolitik #KontanNews