KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Ukraina kembali menjadi sorotan dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menolak tawaran bantuan teknologi drone dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Tawaran tersebut sebelumnya disampaikan Zelensky sebagai bentuk dukungan kepada Amerika Serikat dan beberapa negara di Timur Tengah yang menghadapi ancaman serangan drone Iran.
Ukraina sendiri memiliki pengalaman menghadapi drone Shahed buatan Iran yang juga digunakan Rusia dalam perang di Ukraina.
Namun, respon Trump justru sangat tajam.
Dalam wawancara dengan jurnalis Kristen Welker dalam program Meet the Press, Trump menyatakan bahwa Washington tidak membutuhkan bantuan dari Kyiv.
Dengan nada sinis, ia bahkan mengatakan:
Orang terakhir yang kami butuhkan bantuannya adalah Zelensky.
Pernyataan itu muncul ketika konflik di Timur Tengah semakin memanas sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan tersebut memicu balasan dari Teheran yang menargetkan berbagai aset militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Ketegangan ini juga berdampak besar pada jalur energi dunia.
Iran dilaporkan memperketat kontrol di Strait of Hormuz, jalur laut vital bagi pengiriman minyak global.
Konflik yang kini memasuki minggu ketiga tersebut juga mulai menimbulkan tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat.
Sejumlah politisi Partai Republik bahkan mendesak Trump untuk segera mencari jalan keluar sebelum perang berdampak lebih luas pada ekonomi Amerika.
Di sisi lain, Partai Demokrat terus mengkritik operasi militer tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan ilegal.
Hubungan antara Trump dan Zelensky sendiri memang telah lama tegang.
Salah satu penyebabnya adalah kedekatan Zelensky dengan mantan Presiden AS Joe Biden.
Ketegangan juga muncul ketika Zelensky menolak membantu pemerintahan Trump pertama dalam upaya mencari informasi yang dapat merusak reputasi Biden menjelang pemilu Amerika Serikat tahun 2020.
Episode tersebut bahkan berujung pada proses pemakzulan pertama terhadap Trump di DPR Amerika Serikat.
Hubungan kedua pemimpin kembali memanas tahun lalu ketika Trump dan Wakil Presidennya JD Vance terlibat konfrontasi dengan Zelensky di Gedung Putih.
Pertemuan yang seharusnya diplomatis itu berubah menjadi perdebatan panas di depan kamera dan mengejutkan banyak jurnalis yang hadir.
Dalam wawancara yang sama, Trump juga menyalahkan Zelensky atas mandeknya proses perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Ia bahkan mengklaim Presiden Rusia Vladimir Putin sebenarnya bersedia mencapai kesepakatan damai.
Menurut Trump, justru Zelensky yang dinilai lebih sulit diajak bernegosiasi.
Padahal perang antara Rusia dan Ukraina sendiri sudah berlangsung selama empat tahun dan hingga kini belum menemukan titik akhir.
Dengan hubungan yang terus memburuk antara Washington dan Kyiv, masa depan kerja sama kedua negara kini kembali menjadi tanda tanya besar.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________