Harga Minyak US$ 100 per Barel Picu Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi Berisiko Terkoreksi


Senin, 16 Maret 2026 | 22:32 WIB | dilihat

Harga minyak dunia yang menembus **US$100 per barel** akibat konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap perekonomian Indonesia. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, memperkirakan jika harga minyak bertahan di level tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terkoreksi sekitar **0,3% hingga 0,5%**. Kondisi ini berpotensi menekan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi nasional dengan kontribusi sekitar **53% terhadap PDB**.

Kenaikan harga energi berisiko memicu **inflasi cost-push**, di mana harga barang dan jasa ikut naik karena biaya produksi meningkat. Sekitar **74% pengeluaran rumah tangga** sensitif terhadap kenaikan harga, terutama pada komponen pangan, energi, dan transportasi. Selain menekan daya beli masyarakat, lonjakan harga minyak juga dapat membebani APBN karena setiap kenaikan **US$10 per barel** diperkirakan menambah subsidi energi hingga sekitar **Rp25 triliun**, bahkan bisa mencapai **Rp280–296 triliun** jika konflik berlangsung satu kuartal. Situasi ini membuat pemerintah perlu menyiapkan kebijakan fiskal yang lebih proaktif agar APBN tidak hanya menjadi penahan guncangan, tetapi juga mampu menstabilkan ekonomi di tengah volatilitas energi global.

#HargaMinyak #EkonomiIndonesia #APBN #Inflasi #EnergiGlobal #INDEF #KontanNews


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved