Musim Gugur Aset Kripto, Kapitalisasi Anjlok ke US$ 2,33 Triliun, Investor Dilanda Extreme Fear


Senin, 16 Februari 2026 | 13:13 WIB | dilihat

Pasar kripto lagi dingin-dinginnya. Bukan sekadar koreksi biasa, tapi sudah banyak yang menyebut fase ini sebagai winter season. Angkanya jelas bikin kaget.

Per 12 Februari 2026, total kapitalisasi pasar aset kripto global turun ke US$ 2,33 triliun. Bandingkan dengan puncaknya di Oktober 2025 yang sempat menyentuh US$ 4,28 triliun. Artinya, hampir separuh nilai pasar menguap dalam beberapa bulan terakhir.

Dan seperti biasa, sorotan utama tertuju ke Bitcoin.

Sebagai aset kripto terbesar yang menguasai lebih dari separuh kapitalisasi pasar, pergerakan Bitcoin sangat menentukan arah pasar. Harga BTC bergerak dari sekitar US$ 60.000 di awal Februari menjadi sekitar US$ 68.000 pada malam 12 Februari. Secara tahunan, ini mencerminkan penurunan lebih dari 20%.

Tekanan bukan hanya di Bitcoin. Altcoin juga tak kalah terpukul.

Ethereum, kripto terbesar kedua, tercatat anjlok lebih dari 30% sepanjang tahun ini. Saat ini ETH diperdagangkan di bawah US$ 2.000. Kondisi ini mempertegas bahwa pelemahan pasar bersifat luas, bukan hanya pada satu aset.

Sentimen pasar pun ikut menggambarkan suasana yang suram.

Indeks Fear & Greed Crypto jatuh ke level 8. Ini bukan sekadar takut, tapi sudah masuk kategori extreme fear. Level seperti ini biasanya mencerminkan tekanan psikologis tinggi di kalangan investor.

Apa yang memicu kondisi ini?

Salah satu faktor utama datang dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Setelah Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve, pasar langsung bereaksi.

Kevin Warsh dikenal sebagai sosok dengan pandangan hawkish, yang identik dengan kebijakan suku bunga ketat. Dampaknya? Dolar AS menguat.

Penguatan dolar ini secara langsung menggerus narasi debasement trade—narasi yang selama ini mendorong investor membeli aset lindung nilai seperti emas, perak, dan kripto.

Ketika dolar menguat, daya tarik aset alternatif cenderung melemah. Akibatnya, likuiditas di pasar kripto semakin tipis.

Tekanan teknikal pun memperburuk situasi.

Fahmi Almutaqin, analis kripto Reku, mencatat terjadinya multiple breakdown pada level support penting. Salah satu sinyal paling krusial adalah penembusan rata-rata bergerak 365-hari Bitcoin untuk pertama kalinya sejak Maret 2022.

Dalam analisis teknikal, level ini sering dipandang sebagai garis psikologis jangka panjang. Ketika tembus, sentimen bearish biasanya makin kuat.

Menariknya, sentimen risk-off saat ini dinilai lebih dipengaruhi faktor makro ketimbang isu internal kripto.

Fyqieh Fachrur dari Tokocrypto menyoroti korelasi tinggi antara kripto dengan indeks S&P 500 dan bahkan harga emas. Ini menunjukkan bahwa kripto makin diperlakukan sebagai bagian dari aset berisiko global, bukan lagi pasar yang sepenuhnya terisolasi.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik ikut menambah tekanan.

Peringatan Amerika Serikat terhadap Iran meningkatkan kekhawatiran pasar global. Ditambah lagi sinyal potensi kenaikan suku bunga lanjutan dari Bank of Japan, yang mempersempit likuiditas global.

Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko—termasuk kripto—biasanya jadi korban pertama.

Ada satu faktor lain yang mempercepat penurunan harga: likuidasi massal di pasar derivatif.

Trader dengan leverage tinggi menghadapi margin call. Ketika harga bergerak berlawanan arah, posisi mereka otomatis dilikuidasi. Ini menciptakan efek domino—jual paksa yang mempercepat penurunan harga.

Inilah yang sering disebut fase kapitulasi.

Investor menjual secara massal, bahkan tanpa terlalu memperhatikan harga. Level extreme fear biasanya muncul di fase ini.

Menariknya, secara historis, fase extreme fear sering dikaitkan dengan potensi pembentukan level terendah atau bottom. Tapi tentu saja, tidak ada jaminan.

Lalu bagaimana prospeknya?

Data dari Polymarket menunjukkan probabilitas 71% Bitcoin kembali ke US$ 85.000 sebelum akhir Februari. Namun peluang mencapai US$ 100.000 hanya sekitar 10%.

Ini menggambarkan pasar yang masih penuh ketidakpastian.

Secara teknikal, Fahmi memperkirakan support kritis Bitcoin berada di kisaran US$ 65.000 hingga US$ 60.000, dengan resistance di US$ 75.000 dan US$ 95.000.

Selama support utama bertahan, peluang rebound tetap terbuka.

Di tengah volatilitas tinggi, likuiditas menjadi faktor kunci.

Aset dengan likuiditas kuat dan dukungan nilai riil, seperti Hyperliquid, SKY, Tether Gold, dan PAX Gold, tercatat masih menunjukkan performa relatif positif.

Hal ini menegaskan satu hal penting: di pasar yang bergejolak, investor cenderung mencari stabilitas.

#Bitcoin #Kripto #CryptoWinter #Ethereum #BTC #PasarKripto #InvestasiKripto #FearAndGreed #CryptoCrash #Altcoin #TradingKripto #DCA #MakroEkonomi #FederalReserve #KevinWarsh #DonaldTrump #Likuiditas #CryptoNews #KontanNews #AsetDigital


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved