Pemerintah Indonesia berencana mengimpor 580.000 ekor ayam dari Amerika Serikat melalui skema The Agreement on Reciprocal Trade (ART). Namun menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Perunggasan Indonesia, Antoni J. Supit, impor ini bukan ayam konsumsi, melainkan Grand Parent Stock (GPS) sebagai “kakek” bibit yang akan menghasilkan Parent Stock (PS) dan kemudian DOC (day old chick) untuk peternak dalam negeri, dengan siklus 1,5–2 tahun sebelum sampai ke pasar. Dengan harga GPS di kisaran US$20–US$30 per ekor dan hanya segelintir pemain global seperti Aviagen dan Cobb yang menguasai teknologi breeding, impor GPS dinilai justru menjamin pasokan DOC bagi peternak lokal.
Nilai impor yang diperkirakan US$17–US$20 juta ini diklaim tidak mengganggu usaha rakyat, melainkan untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok bibit unggul di Indonesia. Pertanyaannya, apakah ketergantungan jangka panjang pada impor bibit GPS seperti ini benar-benar aman bagi kedaulatan pangan dan kemandirian industri perunggasan nasional?
#ImporAyam #GrandParentStock #Perunggasan #ART #PerdaganganIndonesiaAS #PeternakLokal #KetahananPangan #IndustriUnggas #KontanNews