KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani berharap valuasi harga saham di pasar modal Indonesia bisa terus meningkat secara murni atau bukan gorengan.
Pernyataan itu Rosan sampaikan dalam konferensi pers usai Dialog Pelaku Pasar Modal di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Isu yang mengguncang pasar modal Indonesia beberapa hari terakhir menjadi perhatian utama pemerintah.
Menurutnya, pemerintah ingin semua pihak betul-betul menjaga pasar modal Indonesia agar tidak hanya menjadi tempat transaksi yang besar namun juga berkualitas. transparan, dan bisa dipercaya dengan akuntabilitas tinggi.
Dengan demikian, semua pembentukan harga di pasar modal adalah murni terbentuk dari demand dan supply yang masuk ke pasar modal.
Menurut Rosan, berapapun valuasi harga saham selama nilai itu terbentuk dari pasar secara murni tidak akan pernah menjadi masalah. Sebab, ketika harga saham dibentuk pasar, likuiditas tidak akan menjadi persoalan atau isu dalam waktu ke depan.
Investor dalam negeri maupun luar negeri bisa mengetahui harga saham yang naik dan turun secara murni dan dibentuk oleh pasar, sehingga bisa mengambil sikap untuk berinvestasi atau menarik kembali sahamnya.
Untuk mewujudkan pasar modal yang baik sangat membutuhkan peran penting Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).
Menurut Rosan, menjaga iklim bursa agar bisa terus tumbuh dari sisi kualitas merupakan kepentingan semua pihak.
Ambruknya pasar saham selama pekan kemarin menjadi momentum yang sangat baik untuk meningkatkan kualitas, transparansi, dan akuntabilitas pasar saham Indonesia.
Sebelumnya, pasar modal Indonesia terguncang setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok hingga diterapkan trading halt. MSCI atau Morgan Stanley Capital International, sebagai lembaga penyedia indeks global menerbitkan regulasi baru dan mengoreksi IHSG Indonesia.
Selain itu, struktur kepemilikan saham di Indonesia dinilai kurang transparan hingga muncul dugaan praktik perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga wajar.
Temuan itu menjadi dasar peringatan MSCI. Indonesia lalu diberi waktu hingga Mei untuk membenahi persoalan tersebut.
Peringatan MSCI tersebut membuat status Indonesia berisiko turun dengan skenario terburuk dari pasar negara berkembang menjadi pasar negara perbatasan.
Hal ini membuat pasar panik dan IHSG anjlok hingga 16,7 persen. Di tengah gonjang ganjing itu, Direktur Utama BEI, Iman Rachman menyatakan mundur dari jabatannya dengan alasan bentuk tanggung jawab.
Selang beberapa waktu kemudian, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK) Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon I. B. Aditya Jayaantara juga mengundurkan diri.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________