Perputaran Uang Ramadhan-Lebaran 2026 Diproyeksi Tembus Rp 190 Triliun


Jumat, 20 Februari 2026 | 12:25 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengulas proyeksi perputaran uang selama periode Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2026.

Yusuf memperkirakan total perputaran uang pada masa Ramadhan?Lebaran 2026 dapat menembus angka Rp 190 triliun atau bahkan lebih, melampaui realisasi tahun lalu yang hanya sebesar Rp 160 triliun.

Menurutnya, tahun ini menjadi momen strategis karena seluruh siklus konsumsi—dari pencairan THR, belanja rumah tangga, hingga arus mudik—terkonsentrasi pada kuartal I, sehingga menciptakan dorongan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan pola historis.

Pencairan tunjangan hari raya (THR) dilakukan dalam dua gelombang: pertama bagi aparatur sipil negara (ASN) pada Februari, kemudian bagi sektor swasta pada Maret. Kedua gelombang ini tidak hanya meningkatkan konsumsi secara instan, tetapi juga memperpanjang periode belanja masyarakat.

Fenomena ini disebut "extended spending window", yakni jendela belanja yang lebih panjang sehingga aliran likuiditas ke sektor ritel, distribusi, dan jasa menjadi lebih stabil.

Berdasarkan tren historis dan kesiapan uang kartal dari Bank Indonesia, Yusuf memproyeksikan perputaran uang meningkat sekitar 10?15?% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan nilai potensial antara Rp 175 triliun hingga melampaui Rp 190 triliun.

Pertumbuhan ini tidak hanya berasal dari konsumsi primer seperti makanan dan pakaian, melainkan juga didorong oleh lonjakan signifikan pada sektor transportasi, akomodasi, dan pariwisata daerah.

Arus mudik berperan sebagai mekanisme redistribusi ekonomi dari kota?kota besar ke daerah, memicu efek pengganda yang memperkuat aktivitas ekonomi lokal.

Dari perspektif makroekonomi, karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dorongan perputaran uang ratusan triliun pada kuartal I yang biasanya lemah dapat menaikkan baseline pertumbuhan ekonomi menjadi sekitar 5,0?%?5,1?% secara tahunan.

Namun, Yusuf mengingatkan bahwa efektivitas dorongan ini sangat bergantung pada stabilitas inflasi, khususnya harga pangan pokok. Jika inflasi melambung terlalu tinggi, daya beli riil masyarakat akan tergerus dan multiplier effect terhadap ekonomi tidak akan optimal.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved