KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Indonesia sedang mengalami krisis diam-diam. Kelas menengah yang dulu menjadi mesin pertumbuhan kini berkurang drastis, daya beli menurun, dan konsumsi domestik terancam. Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana sektor manufaktur bisa jadi penyelamat?
Menurut data terbaru, jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,3 juta pada 2021 menjadi 46,7 juta pada 2025. Itu berarti proporsi mereka dalam total populasi jatuh dari 21,5% menjadi hanya 16,6%. Penurunan ini bukan sekadar angka; kelas menengah menyumbang sekitar 81,5% konsumsi nasional. Jadi, setiap penurunan di segmen ini langsung memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Istilah sandwich menggambarkan posisi mereka: di antara kelas atas yang kaya stimulus dan kelas bawah yang masih dapat bantuan. Karena dianggap “mirip” kelas atas, mereka tidak lagi menerima kebijakan dukungan khusus. Akibatnya, tekanan biaya hidup, inflasi, dan ketidakpastian kerja mulai menggerus daya beli mereka.
Ekonom UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, menekankan bahwa masalah utama kini bukan produksi, melainkan demand?side. Kepercayaan konsumen menurun karena banyak pekerjaan yang tergerus, terutama di sektor yang tidak padat karya. Tanpa rasa aman, orang menahan pengeluaran, memperlambat roda ekonomi.
Enrico menyebutkan bahwa penguatan sektor manufaktur, khususnya yang padat karya, dapat membuka lapangan kerja massal. Manufaktur tidak hanya menyerap tenaga kerja, tetapi juga meningkatkan pendapatan dan daya beli. Dengan lebih banyak orang berpenghasilan stabil, konsumsi domestik akan kembali menguat.
Saat ini, investasi asing tertarik pada transportasi, pergudangan, logistik, dan pertanian. Semua sektor ini memiliki potensi untuk menciptakan ribuan pekerjaan, baik di lini produksi maupun rantai pasokan. Ini berarti efek multiplier yang kuat bagi kelas menengah.
Emillya Soesanto, Head of Deposit, Wealth Management and Training di UOB Indonesia, menegaskan penurunan kelas menengah. Dari 57,3 juta (2021) menjadi 47,9 juta (2024) dan selanjutnya 46,7 juta (2025). Angka ini menjadi alarm bagi pembuat kebijakan karena kelas menengah adalah motor utama konsumsi.
Jika tren ini berlanjut, konsumsi domestik akan melambat, pertumbuhan GDP tertekan, dan ketimpangan sosial semakin lebar. Bisnis ritel, properti, dan layanan akan merasakan penurunan penjualan, sementara pemerintah kehilangan basis pajak yang kuat.
Penguatan manufaktur bukan sekadar meningkatkan output barang, melainkan menciptakan ekosistem kerja yang stabil. Dengan gaji yang cukup, kelas menengah dapat kembali menjadi konsumen utama, menstimulasi sektor-sektor lain, dan menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________