KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Perang antara Amerika, Israel, dan sekutunya yang kini meluas ke Iran bukan hanya soal geopolitik. Konflik ini mengancam rantai pasok global, memicu lonjakan harga energi, dan berpotensi mendorong inflasi melampaui target bank sentral utama dunia – European Central Bank (ECB).
Pada 6 Februari 2026, anggota Dewan ECB, Isabel Schnabel, menyampaikan keprihatinan Uni Eropa atas dampak perang terhadap Iran. Ia menekankan bahwa meski kebijakan moneter ECB masih berada pada posisi yang baik, volatilitas geopolitik dapat menambah tekanan inflasi dan memaksa bank sentral tetap waspada.
Investor kini meningkatkan taruhan bahwa ECB akan menaikkan suku bunga pada 2026. Lonjakan biaya energi akibat konflik diproyeksikan akan diteruskan ke harga konsumen, sehingga inflasi berpotensi melampaui target 2% ECB.
ECB pernah mengabaikan volatilitas harga energi, namun inflasi tajam pada 2022 mengajarkan pentingnya kehati-hatian. Schnabel menyatakan, bahwa dengan proyeksi inflasi yang berada di target dalam jangka menengah serta ekspektasi inflasi yang tetap terjaga, kebijakan moneter masih berada pada posisi yang baik.
Schnabel menegaskan bahwa ketegangan di Iran menambah ketidakpastian jalur inflasi. ECB harus memantau apakah lonjakan harga energi bersifat sementara atau berlanjut, serta mengamati apakah perusahaan akan meneruskan biaya produksi ke konsumen.
Dalam pertemuan mendatang, ECB akan menilai dampak perang Iran terhadap perekonomian Eropa. Kebanyakan pembuat kebijakan memperkirakan tidak ada perubahan kebijakan signifikan dalam waktu dekat, selama inflasi di atas target tetap kecil dan bersifat sementara.
Jika harga inti dan pertumbuhan upah tidak selaras dengan target inflasi, tekanan harga dapat bertahan. Pandemi menunjukkan bahwa inflasi dapat beralih dari sementara menjadi dua digit, seperti yang terjadi pada akhir 2022.
ECB baru mulai menaikkan suku bunga pada Juli 2022 dengan laju cepat, namun berhasil menurunkan inflasi kembali ke target selama sebagian besar tahun lalu.
Schnabel menolak anggapan bahwa peningkatan impor dari China akan menurunkan inflasi di kawasan euro. Analisis staf ECB menunjukkan dampak pengalihan perdagangan dari China sangat kecil dan tidak signifikan secara statistik.
Tekanan inflasi juga dapat bertahan karena pasar tenaga kerja yang masih ketat. Penuaan populasi, melambatnya imigrasi, dan ketidaksesuaian keterampilan memperparah kekurangan tenaga kerja, yang pada gilirannya dapat menambah tekanan upah dan harga.
Jika konflik di Timur Tengah berlarut, gangguan pasokan energi dapat menjadi kronis, memaksa ECB dan bank sentral lain untuk menyesuaikan kebijakan moneter lebih agresif. Hal ini berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat, nilai tukar, dan investasi di seluruh dunia.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________