Kinerja APBN Indonesia mulai menghadapi tekanan pada awal 2026. Hingga Maret, defisit anggaran tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB. Meski masih di bawah target tahunan, sejumlah ekonom menilai kondisi ini sudah menjadi sinyal peringatan dini bagi kesehatan fiskal nasional. Defisit yang sudah mencapai sekitar 34,8% dari target tahunan mencerminkan percepatan belanja pemerintah pusat, sementara transfer ke daerah justru melemah. Di sisi lain, penerimaan pajak juga belum menunjukkan penguatan signifikan karena masih lebih banyak ditopang PPN dibanding pertumbuhan pajak badan usaha.
Tekanan APBN juga diperbesar oleh kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah yang meningkatkan beban subsidi energi. Ekonom menilai kondisi ini belum masuk kategori krisis, tetapi ruang fiskal pemerintah mulai menyempit, terutama karena keseimbangan primer sudah negatif dan pembayaran bunga utang masih bergantung pada penambahan utang baru. Pemerintah memang masih memiliki bantalan fiskal berupa SAL sekitar Rp420 triliun, namun efektivitasnya dinilai terbatas jika hanya digunakan untuk menutup defisit. Kini, perhatian utama bukan lagi sekadar besarnya defisit, tetapi kualitas belanja negara dan kemampuannya mendorong pertumbuhan ekonomi.
#APBN #DefisitAnggaran #EkonomiIndonesia #Fiskal #Rupiah #KontanNews