Rp 17.529 per Dollar AS, Kurs Rupiah Di Titik Terendah Dalam Sejarah, Ini Dampaknya!


Kamis, 14 Mei 2026 | 18:13 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga mencapai titik terendah dalam sejarah. Pelemahan rupiah harus dihentikan karena bakal menimbulkan banyak dampak negatif.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dollar AS.

Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah sepanjang sejarah dan memicu perhatian pelaku pasar maupun masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.

Pelemahan rupiah dinilai tidak hanya dipengaruhi sentimen global, tetapi juga faktor domestik seperti kondisi fiskal, arus modal asing, hingga neraca perdagangan Indonesia.

Lantas, apa penyebab rupiah terus melemah hingga menyentuh salah satu titik terendah sepanjang sejarah.

Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, menilai pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan persoalan fundamental ekonomi domestik dibandingkan konflik global.

Menurut Huda, salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah pengelolaan fiskal pemerintah yang dinilai kurang optimal. Ia menyoroti defisit anggaran pemerintah pada 2025 yang melebar mendekati 3 persen dan diperkirakan masih berlanjut pada 2026.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran investor asing terhadap fundamental ekonomi Indonesia sehingga mendorong terjadinya capital outflow atau arus keluar modal asing.

Arus keluar modal membuat permintaan dollar AS meningkat dibandingkan rupiah. Selain itu, sejumlah lembaga pemeringkat surat utang juga mulai memberikan perhatian terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Huda menjelaskan pelemahan rupiah berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor, terutama pada barang yang masih bergantung pada bahan baku dan produk impor.

Ia memperkirakan dampak kenaikan harga mulai terasa dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Tekanan paling besar diperkirakan terjadi pada harga kebutuhan pokok, transportasi, dan biaya hidup harian masyarakat.

Menurut Huda, salah satu dampak yang mulai terlihat adalah kenaikan harga plastik dan kemasan akibat mahalnya biaya impor serta distribusi.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai sekitar 80 persen tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor domestik.

Menurutnya, hal itu terlihat dari tren pelemahan rupiah terhadap sekitar 85 persen mata uang dunia dalam enam bulan terakhir.

Rupiah juga tercatat melemah terhadap mata uang negara tetangga seperti dollar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, dong Vietnam, dan peso Filipina.

Ia menjelaskan salah satu penyebab utama pelemahan rupiah berasal dari tantangan struktural pada neraca pembayaran atau balance of payments Indonesia.

Menurutnya, surplus perdagangan berpotensi terus menurun akibat melemahnya ekspor karena turunnya harga komoditas dan perlambatan permintaan global.

#kontantv #kontan #kontannews
_________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved