KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global.
Harga minyak dunia melonjak tajam setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlanjut hingga Minggu malam.
Pasar kini khawatir: apakah pasokan energi dunia akan terganggu?
Saat ini, harga minyak mentah Brent mencetak level tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir.
Pada pukul 06.00 waktu New York:
Minyak Brent naik 7,6 persen menjadi 78,41 dolar AS per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI melonjak lebih dari 7,4 persen ke level 72,01 dolar AS per barel.
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu distribusi minyak global.
Lonjakan harga minyak langsung mengangkat saham perusahaan energi raksasa.
Exxon Mobil naik 4,1 persen di pra-pasar.
Chevron menguat 3,9 persen.
Di Eropa, TotalEnergies naik 3,6 persen.
Shell menguat 2,2 persen.
Dan BP naik 1,8 persen.
Investor beralih ke saham energi sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer besar-besaran yang disebut Operation Epic Fury akan terus berlanjut hingga tujuan Amerika tercapai.
Israel juga memperluas serangan ke Iran dan target Hezbollah di Lebanon.
Situasi ini memperbesar risiko gangguan pada jalur energi vital dunia.
Perhatian pasar kini tertuju pada Selat Hormuz.
Sekitar 13 hingga 15 juta barel minyak per hari, setara 20 persen pasokan global melewati jalur sempit ini.
Jika terjadi gangguan serius atau penutupan, dampaknya bisa sangat besar bagi pasar energi global.
Analis Energy Aspects, Amrita Sen, memperkirakan harga minyak bisa bertahan di kisaran 80 dolar AS per barel.
Namun jika infrastruktur energi menjadi target atau terjadi gangguan berkepanjangan, harga berpotensi melonjak hingga 100 dolar AS per barel.
Meski ada jalur alternatif seperti pipa East-West Arab Saudi menuju Laut Merah, hanya sekitar 5 juta barel yang bisa dialihkan.
Artinya, masih ada sekitar 10 juta barel per hari yang tetap bergantung pada Selat Hormuz.
Serangan sporadis terhadap kapal tanker dinilai menjadi risiko terbesar karena jauh lebih sulit dicegah dibanding penutupan total jalur.
Yang pasti, jika konflik berlangsung lebih lama, dampaknya bukan hanya pada harga minyak, tetapi juga inflasi global dan anggaran negara-negara pengimpor energi.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________