KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Penutupan Selat Hormuz secara berkepanjangan bukan hanya soal perang.
Dampaknya bisa jauh lebih luas: resesi global.
Konflik Israel–Iran yang terus memanas kini mengancam jalur energi paling vital di dunia.
Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden AS ke-41 dan pendiri Rapidan Energy, memperingatkan: Jika Selat Hormuz ditutup dalam waktu lama, dunia bisa masuk ke jurang resesi.
Selat sempit ini mengalirkan sekitar 14 juta barel minyak per hari — hampir sepertiga ekspor minyak mentah dunia.
Selain itu, sekitar 20 persen ekspor LNG global juga melewati jalur ini.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menyebut risiko resesi global semakin nyata.
Menurutnya, sejumlah indikator sudah menunjukkan tanda bahaya.
Salah satunya adalah lonjakan VIX Index — indeks volatilitas global — yang naik 52 persen sejak awal 2026.
Semakin tinggi volatilitas, semakin besar risiko guncangan ekonomi.
Bhima menjelaskan, dampak utamanya berasal dari imported inflation.
Ketika harga minyak dan pangan global naik tajam, lalu diperparah pelemahan nilai tukar, daya beli masyarakat akan tergerus.
Kenaikan harga energi yang terlalu cepat menciptakan shock pada sisi pasokan.
Akibatnya, biaya produksi naik, harga barang melonjak, dan konsumsi melemah.
Kombinasi ini bisa menyeret banyak negara ke dalam kontraksi ekonomi.
Tak hanya sektor riil, pasar keuangan juga dinilai rentan.
Bhima menyoroti potensi pecahnya gelembung pasar, terutama di saham teknologi.
Saat ekonomi riil melambat tetapi pasar saham terus reli, ketidaksinkronan ini bisa berujung koreksi tajam.
Jika itu terjadi bersamaan dengan krisis energi, dampaknya bisa sistemik.
Menurut data U.S. Energy Information Administration, Selat Hormuz adalah titik perdagangan minyak terpenting di dunia.
Total perdagangan kawasan Teluk Persia–Hormuz mencapai 1,2 triliun dolar AS per tahun, setara 20 persen pengiriman kontainer global.
Ini bukan sekadar jalur laut, tetapi instrumen geopolitik strategis.
Jika terganggu, bukan hanya harga BBM yang naik.
Inflasi global, tekanan APBN negara pengimpor energi, hingga ancaman PHK massal bisa menjadi efek lanjutan.
Apakah dunia benar-benar menuju resesi akibat konflik Timur Tengah?
Atau pasar masih mampu bertahan?
Tulis pendapat Anda di kolom komentar
angan lupa like dan subscribe untuk update ekonomi dan geopolitik terbaru.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________