Swasta Tidak Keberatan Beli Solar dari Pertamina


Rabu, 11 Februari 2026 | 05:45 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Pemerintah Indonesia menghentikan impor solar dan akan mengatur skema baru pembelian solar dari Pertamina pada SPBU swasta serta konsumen.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa mulai April 2026, para pemilik SPBU swasta akan membeli solar langsung dari Pertamina, menggantikan kebutuhan impor yang selama ini dipenuhi hingga tahun 2025.

Direktur Jenderal Migas, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa volume solar impor tahun 2025 akan dipakai untuk kebutuhan Januari hingga Maret 2026, dan setelah itu semua pembelian beralih ke produksi domestik. Hingga kini, belum ada satu pun SPBU swasta yang menolak skema tersebut; sebagian besar hanya menunggu fasilitasi lebih lanjut.

Kenapa pemerintah ingin menghentikan impor? Karena proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan akan mulai beroperasi pada Januari 2026, menambah produksi solar nasional sebesar 7 juta kiloliter (kl). Dengan tambahan ini, Indonesia diproyeksikan memiliki surplus 1,6?1,7 juta kl solar yang dapat diubah menjadi avtur.

Target penghentian impor dibagi menjadi dua fase: pertama, solar subsidi tipe CN?48 akan dihentikan pada kuartal kedua 2026; kedua, solar nonsubsidi tipe CN?51, yang biasanya dipakai industri alat berat dan pertambangan, akan berhenti pada semester kedua tahun ini.

Solar CN?48 biasanya dicampur FAME menjadi biodiesel atau biosolar, sementara CN?51 memiliki kualitas lebih tinggi untuk mesin berat. Kedua jenis ini akan diproduksi secara domestik, memastikan pasokan yang stabil.

Dalam rangka menjamin ketersediaan bahan bakar, Shell Indonesia dan Pertamina menandatangani kerja sama penyediaan base fuel CN?51 10ppm dari Kilang Pertamina Internasional Balikpapan. Ingrid Siburian, President Director Shell Indonesia, menyatakan bahwa produk BBM Shell V?Power Diesel berbasis CN?51 akan tersedia di jaringan SPBU Shell mulai Desember 2025 hingga Januari 2026.

Penghentian impor solar juga diharapkan menurunkan harga di dalam negeri. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memperkirakan penurunan harga karena biaya logistik berkurang, mengingat suplai kini berasal dari kilang dalam negeri, bukan impor.

Menurut Ketua YLKI, Niti Emiliana, satu sumber produksi akan meningkatkan standar kualitas, memudahkan pelacakan, dan mempermudah pengawasan. Sementara Ketua Umum Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menekankan pentingnya menjaga nuansa bisnis yang sehat antara Pertamina dan SPBU swasta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan investasi.

Kesimpulannya, skema pembelian solar dari Pertamina tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga berpotensi menurunkan harga, meningkatkan kualitas, dan memperkuat ekosistem energi nasional.

#kontan #kontannews #kontantv


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved