KONTAN -
https://www.kontan.co.id/
Pemerintah serius memacu hilirisasi di sektor energi fosil. Sektor ini juga menjadi salah satu sektor yang akan dibiayai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Pemerintah akan mengembangkan hilirisasi batubara dalam bentuk dimetil eter (DME) sebagai substitusi liquefied petroleum gas (LPG). Bukan cuma itu, pemerintah siap membangun kilang minyak berkapasitas 500.000 barel di Sumatra. Fokus utama ini bahkan menggeser investasi energi baru terbarukan (EBT).
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyebutkan, proyek EBT masih menunggu antrean, sehingga masuk dalam gelombang kedua.
Berdasarkan profil dan dokumen rencana investasi Danantara, sovereign wealth fund (SWF) Indonesia ini menyasar beragam sektor, termasuk hilirisasi mineral, hulu migas, manufaktur, ketahanan energi, ketahanan pangan hingga infrastruktur digital.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyatakan, jika Danantara fokus pada pembiayaan fosil, maka terdapat beberapa risiko yang akan dihadapi Indonesia.
Pertama, sektor fosil yang dibiayai tidak ekonomis. Contohnya gasifikasi batubara sudah banyak ditinggal oleh investor Amerika dan China karena investasi mahal. Bahkan untuk menggantikan LPG, hitungannya lebih murah impor LPG.
Kedua, hilirisasi sektor fosil membutuhkan subsidi besar-besaran. Melihat kondisi fiskal yang sangat berat, penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin terbebani jika harus ditambah subsidi energi dan kompensasi yang tinggi.
Ketiga, sektor fossil sudah banyak ditinggal lembaga keuangan internasional karena dianggap stranded asset dan bertolak belakang dari upaya menuju target net zero emission.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR ) Fabby Tumiwa melihat transisi energi hingga kepastian perkembangan proyek energi baru terbarukan (EBT) dalam negeri justru harus mendapat dukungan dari Danantara.
Sesuai target Indonesia mencapai NZE di tahun 2060, maka dibutuhkan pendanaan di sektor EBT sebesar US$ 30 miliar-US$ 40 miliar per tahun.
Jika Danantara bisa mengambil porsi 30% saja, maka setiap tahun harus ada alokasi US$ 10 miliar. Sisanya bisa dimobilisasi dari pendanaan swasta.
Fabby bilang, jika Danantara bisa mengambil kapasitas lebih tinggi atau sekitar US$ 20 miliar, maka alokasi untuk portofolio EBT Indonesia sudah separuhnya. Yang terang, apabila Indonesia tidak membangun infrastruktur energi bersih sesuai peta jalan transisi, maka target NZE 2060 bisa gagal tercapai.
#kontantv #kontan #kontannews #danantara #hilirisasi #batubara
_____________________
Instagram:
https://www.instagram.com/kontannews/
Facebook:
https://www.facebook.com/kontannews/
Twitter:
https://www.twitter.com/kontannews/