Iran Ancam Tutup Jalur Minyak Dunia Kedua! Bab el-Mandeb Bisa Bernasib Seperti Hormuz


Jumat, 13 Maret 2026 | 20:00 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Ketegangan perang di Timur Tengah semakin berbahaya.

Setelah melumpuhkan jalur pelayaran di Selat Hormuz, Iran kini memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat.

Teheran mengisyaratkan kemungkinan membuka front baru di jalur laut strategis lain yang sangat vital bagi perdagangan energi dunia.

Jalur yang dimaksud diduga kuat adalah Selat Bab el Mandeb.

Jika itu terjadi, dampaknya bisa mengguncang perdagangan global.

Seorang pejabat militer senior Iran mengatakan bahwa negaranya masih memiliki “banyak kartu” untuk dimainkan dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel.

Ia memperingatkan bahwa jika Washington melakukan kesalahan strategis, Iran dapat memperluas kampanye militernya di laut.

Ancaman tersebut disampaikan pada hari ke-12 perang antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel.

Situasi ini muncul ketika jalur pelayaran di Selat Hormuz sudah praktis lumpuh bagi kapal komersial.

Sebelum konflik memanas, rata-rata sekitar 138 kapal melintas setiap hari di Selat Hormuz.

Namun dalam 24 jam terakhir, jumlah tersebut dilaporkan turun drastis menjadi hanya dua kapal.

Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps bahkan menegaskan tidak akan membiarkan satu liter minyak pun melewati jalur tersebut.

Iran juga memperingatkan bahwa kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, atau sekutunya dapat dianggap sebagai target militer.

Para analis menyebut Selat Bab el Mandeb sebagai Selat Hormuz kedua.

Selat yang terletak di antara Yaman dan Djibouti ini merupakan pintu masuk selatan menuju Laut Merah dan jalur penting menuju Terusan Suez.

Lebih dari 20 ribu kapal melintas setiap tahun melalui jalur ini, membawa sekitar 1,6 miliar ton kargo.

Sekitar 6,2 juta barel minyak per hari juga melewati rute tersebut.

Jika selat ini ditutup, jalur maritim terpendek dari Teluk Persia menuju Eropa akan terputus.

Kapal-kapal harus memutar jauh melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang bisa menambah waktu pelayaran sekitar dua minggu dan biaya bahan bakar lebih dari satu juta dolar per perjalanan.

Ancaman terhadap Selat Bab el Mandeb sangat berkaitan dengan kelompok bersenjata Gerakan Houthi di Yaman.

Kelompok ini menguasai wilayah yang berada di dekat selat tersebut dan selama ini dianggap sebagai sekutu Iran di kawasan.

Sejak 2023, Houthi telah melancarkan lebih dari seratus serangan terhadap kapal komersial di koridor Laut Merah.

Serangan-serangan tersebut berdampak pada pelayaran dari lebih dari 60 negara.

Namun hingga saat ini, Gerakan Houthi terlihat menahan diri dalam konflik terbaru antara Iran dan koalisi Barat.

Kelompok itu belum secara langsung ikut berperang, meski memperingatkan bahwa mereka siap bertindak kapan saja.

Para analis menilai kehati-hatian ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk melemahnya persenjataan mereka setelah berbagai serangan militer sebelumnya.

Selain itu, serangan terhadap pelayaran Laut Merah juga berisiko merusak gencatan senjata antara Houthi dan Arab Saudi yang telah berlangsung sejak 2022.

Jika Iran benar-benar memperluas tekanan ke Selat Bab el?Mandeb, dunia bisa menghadapi gangguan besar pada rantai pasokan energi.

Bukan hanya Timur Tengah, tetapi juga Eropa dan Asia bisa merasakan dampaknya.

Harga minyak global berpotensi melonjak dan biaya perdagangan internasional bisa meningkat tajam.

Dengan ancaman terhadap dua jalur laut strategis dunia—Selat Hormuz dan Selat Bab el Mandeb—ketegangan di Timur Tengah kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya.

Jika eskalasi terus berlanjut, konflik ini tidak hanya menjadi perang regional, tetapi bisa berdampak besar pada ekonomi global.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved