KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Selat Hormuz menjadi satu jalur sempit yang bisa mengguncang ekonomi dunia—dan sekarang, Iran memegang kendali penuh atasnya.
Laporan intelijen terbaru Amerika Serikat memperingatkan bahwa Iran kecil kemungkinan akan membuka Selat Hormuz dalam waktu dekat. Jalur ini merupakan salah satu rute minyak paling vital di dunia, dan kini menjadi satu-satunya daya ungkit nyata Teheran terhadap Washington.
Menurut tiga sumber Reuters yang mengetahui laporan tersebut, Iran justru dapat terus “mencekik” selat itu demi menjaga harga energi tetap tinggi. Strategi ini dinilai sebagai tekanan langsung kepada Presiden AS Donald Trump agar segera mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung hampir lima minggu.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa perang yang awalnya bertujuan melemahkan Iran justru berpotensi memperkuat pengaruh regionalnya. Dengan mengendalikan Selat Hormuz, Teheran mampu mengancam jalur perdagangan energi global.
Di sisi lain, Trump berusaha mengecilkan tantangan tersebut. Ia bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat dengan mudah membuka kembali selat tersebut.
“Dengan sedikit waktu lagi, kita bisa dengan mudah membuka Selat Hormuz, mengambil minyaknya, dan menghasilkan keuntungan besar,” tulis Trump di platform Truth Social.
Namun, para analis telah lama memperingatkan bahwa langkah militer terhadap Iran bisa sangat mahal dan berisiko menyeret Amerika Serikat ke konflik berkepanjangan.
Ali Vaez, Direktur Iran Project di International Crisis Group, menyebut situasi ini sebagai paradoks besar. Menurutnya, dalam upaya mencegah Iran mengembangkan senjata pemusnah massal, justru AS telah memberi Iran “senjata pengacau massal.”
Ia menegaskan bahwa kemampuan Iran memengaruhi pasar energi global melalui Selat Hormuz bahkan lebih kuat dibandingkan senjata nuklir.
Sikap Trump sendiri dinilai tidak konsisten. Di satu sisi, ia menjadikan pembukaan selat sebagai syarat gencatan senjata. Namun di sisi lain, ia meminta negara-negara Teluk dan sekutu NATO untuk memimpin upaya tersebut.
Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Trump yakin selat itu akan segera dibuka, tetapi juga menekankan bahwa negara lain memiliki kepentingan yang lebih besar dalam menjaga jalur tersebut tetap terbuka.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC telah menggunakan berbagai taktik untuk membuat jalur tersebut tidak aman. Mulai dari serangan terhadap kapal sipil, penyebaran ranjau, hingga penarikan biaya lintasan, Iran secara efektif memblokir lalu lintas di Selat Hormuz.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, memicu kelangkaan bahan bakar di berbagai negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Kondisi ini juga berpotensi memicu inflasi di Amerika Serikat, menjadi tekanan politik tambahan bagi Trump di tengah survei yang kurang menguntungkan menjelang pemilu paruh waktu Kongres.
Para pakar menilai, membuka kembali Selat Hormuz lewat operasi militer bukanlah hal mudah. Jalur sempit ini justru membuat kapal dan pasukan menjadi target empuk.
Bahkan jika Amerika Serikat berhasil menguasai wilayah pesisir, Iran tetap bisa menyerang dari dalam negeri menggunakan drone dan rudal.
“Hanya butuh satu atau dua drone untuk mengganggu lalu lintas dan membuat kapal enggan melintas,” ujar Vaez.
Lebih jauh, para analis percaya bahwa Iran tidak akan dengan mudah melepaskan kendali atas selat tersebut, bahkan setelah perang berakhir. Kemampuan mengatur lalu lintas kapal bisa menjadi sumber pendapatan penting untuk membangun kembali negara pascakonflik.
Mantan Direktur CIA, Bill Burns, juga menegaskan bahwa Iran kemungkinan akan mempertahankan kendali ini sebagai alat tawar dalam negosiasi damai, sekaligus untuk mendapatkan jaminan keamanan dan keuntungan ekonomi.
Situasi ini menciptakan satu hal yang pasti: negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat akan menjadi semakin sulit dan penuh tekanan.
#kontantv #kontan #kontannews
_________________________________________