KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Iran mulai memberikan lampu hijau kepada sejumlah kapal asing untuk melintasi Selat Hormuz secara aman di tengah konflik yang masih berlangsung.
Beberapa kapal yang diizinkan melintas di antaranya berbendera Malaysia dan Filipina.
Pejabat dari kedua negara bahkan memastikan kapal mereka dapat melewati jalur tersebut tanpa dikenai “biaya tol”.
Namun hingga Jumat (3/4/2026), belum ada kabar terbaru terkait dua kapal Indonesia yang masih tertahan di jalur energi global tersebut.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia melalui Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia menyampaikan bahwa pihaknya masih berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) serta pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan pelintasan kapal Indonesia berjalan aman.
Lalu, mengapa kapal Indonesia belum juga mendapat kepastian untuk melintas?
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhadi Sugiono, menilai perbedaan perlakuan Iran terhadap kapal Malaysia, Filipina, dan Indonesia menarik untuk dicermati.
Menurut dia, Iran memang mulai membuka akses Selat Hormuz bagi negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik baik, setelah sebelumnya menutup jalur tersebut sejak 28 Februari 2026 akibat konflik di Timur Tengah.
Ia menjelaskan, yang dimaksud negara musuh adalah Amerika Serikat (AS), Israel, serta negara-negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran.
Meski demikian, Muhadi menegaskan Indonesia tidak termasuk dalam kategori tersebut.
Muhadi menduga, penahanan kapal Indonesia kemungkinan besar terkait dengan protokol keamanan yang diterapkan di wilayah konflik.
Ia menambahkan, pemerintah Indonesia perlu meningkatkan diplomasi aktif, seperti yang dilakukan Malaysia dan Filipina.
Di tengah situasi tersebut, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, justru melakukan serangkaian pertemuan dengan tokoh nasional.
Ia tercatat mengunjungi Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, serta Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Dalam pertemuan itu, Boroujerdi menyampaikan kondisi Iran terkini serta menyoroti dugaan kejahatan perang yang dilakukan Israel dan AS.
Kepala Program Magister Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Zezen Zaenal Mutaqin, menilai langkah tersebut sebagai strategi Iran untuk membaca sikap Indonesia.
Menurut dia, Iran ingin memastikan apakah Indonesia condong ke AS dan Israel, terutama setelah bergabung dalam Board of Peace (BoP).
Menariknya, pendekatan yang dilakukan tidak langsung menyasar pemerintah.
Ia menilai tokoh seperti Megawati dan Jokowi masih memiliki pengaruh kuat dalam dinamika politik nasional dan kedekatan dengan Presiden Prabowo Subianto.
Dengan situasi yang masih dinamis, kepastian nasib kapal Indonesia di Selat Hormuz kini sangat bergantung pada intensitas diplomasi dan perkembangan keamanan di kawasan tersebut.
#kontantv #kontan #kontannews
_________________________________________