KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Harga minyak dunia sedang meroket karena konflik di Timur Tengah dan diprediksi penjualan kendaraan listrik (EV) diprediksi akan meningkat.
Konflik geopolitik antara Amerika Serikat?Israel dan Iran kini memanas. Serangan di Selat Hormuz—jalur utama ekspor minyak—menyebabkan penutupan pelayaran dan lonjakan harga minyak mentah secara drastis.
Kenaikan harga minyak global langsung memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Konsumen mulai mencari alternatif yang lebih hemat biaya operasional.
Jongkie D. Sugiarto, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), menyatakan minat pembelian kendaraan listrik tetap kuat meski penjualan belum pasti melesat signifikan. Fokus utama konsumen kini beralih ke Battery Electric Vehicle (BEV) yang harganya lebih terjangkau.
BEV tidak memerlukan bahan bakar fosil, sehingga biaya operasional jauh lebih rendah. Dengan harga BBM yang naik, total biaya kepemilikan BEV menjadi lebih kompetitif dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel.
Jongkie menegaskan bahwa peningkatan penjualan kendaraan listrik akan terjadi, meski belum dapat dipastikan seberapa signifikan. Agen Pemegang Merk (APM) kendaraan listrik sudah menyiapkan strategi khusus untuk memanfaatkan momentum harga minyak yang tinggi.
Setiap APM menentukan kebijakan penjualan masing?masing, termasuk penawaran paket pembiayaan, subsidi baterai, atau program tukar tambah. Hal ini bertujuan menjaga pertumbuhan penjualan meski pasar masih dalam tahap penyesuaian.
Lonjakan harga minyak tidak hanya memengaruhi biaya transportasi, tetapi juga mempercepat transisi energi bersih. Jika tren ini berlanjut, infrastruktur pengisian daya dan produksi baterai akan menjadi fokus utama pemerintah dan industri.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________