Harga Minyak Naik, APBN Terpukul! Tiap USD 1 Bisa Bebani Rp 6,7 Triliun


Selasa, 03 Maret 2026 | 11:02 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran bukan hanya mengguncang Timur Tengah.

Dampaknya bisa langsung terasa di Indonesia.

Harga minyak mentah dunia melonjak
an setiap kenaikan 1 dollar A-S bisa membebani APBN hingga triliunan rupiah.

Seberapa besar dampaknya terhadap ekonomi Indonesia?

Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengungkap bahwa harga minyak sangat sensitif terhadap anggaran negara.

Menurutnya, setiap kenaikan 1 dollar A-S pada Indonesian Crude Price (ICP) akan menambah beban belanja negara sebesar Rp 10,3 triliun.

Terutama untuk subsidi dan kompensasi energi

Namun di sisi lain, negara juga mendapat tambahan penerimaan dari sektor migas sebesar Rp 3,6 triliun melalui PNBP.

Artinya?

Tetap ada selisih defisit sekitar Rp 6,7 triliun untuk setiap kenaikan 1 dollar AS ICP.

Dan inilah yang disebut pemerintah sebagai titik sensitif APBN.

Lonjakan harga minyak dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman Iran menutup Selat Hormuz.

Selat ini adalah jalur vital distribusi minyak dunia.

Jika benar-benar ditutup, rantai pasok global bisa terganggu parah seperti saat perang Ukraina.

Dampaknya bukan hanya minyak.

Harga batu bara, CPO, nikel, hingga bahan baku industri bisa ikut terdorong naik.

Kenaikan harga komoditas global akan memicu tekanan inflasi di dalam negeri.

Jika inflasi meningkat, biasanya otoritas moneter akan merespons dengan pengetatan kebijakan dan kenaikan suku bunga

Langkah ini memang untuk menahan inflasi.

Namun konsekuensinya adalah perlambatan ekonomi.

Investasi bisa tertahan
onsumsi melemah
ertumbuhan melambat.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, investor biasanya mencari aset safe haven.

Harga emas dan obligasi pemerintah cenderung naik.

Namun pasar saham berpotensi tertekan.

Tekanan juga bisa terasa pada nilai tukar rupiah, terutama jika arus modal keluar meningkat.

Kementerian Keuangan sebelumnya juga mengingatkan bahwa konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi menekan inflasi, nilai tukar rupiah, suku bunga dan aktivitas ekonomi nasional.

Kenaikan harga komoditas memang bisa memberi tambahan penerimaan negara.

Namun jika lonjakannya terlalu tinggi dan berlangsung lama, dampaknya justru bisa lebih berat ke sisi belanja dan stabilitas ekonomi.

Singkatnya, perang di Timur Tengah bukan sekadar isu geopolitik.

Setiap kenaikan 1 dollar A-S harga minyak bisa membuat APBN menanggung tambahan defisit Rp 6,7 triliun.

Jika konflik berkepanjangan dan Selat Hormuz benar-benar terganggu, dampaknya bisa menjalar ke inflasi, suku bunga, hingga pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut Anda, apakah pemerintah perlu menyesuaikan asumsi harga minyak dalam APBN sekarang juga?

Tulis pendapat Anda di kolom komentar
angan lupa like dan subscribe untuk update ekonomi dan geopolitik terbaru.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved