KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Iran resmi memasuki babak baru.
Setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari 2026, Teheran kini menunjuk sosok baru sebagai Pemimpin Transisi.
Namanya: Alireza Arafi.
Siapa dia
an ke mana arah Iran setelah era Khamenei?
Ayatollah Alireza Arafi lahir pada tahun 1959 di Meybod, Provinsi Yazd.
Ia berasal dari keluarga ulama dan menempuh pendidikan agama di Kota Qom — pusat pendidikan ulama Syiah Iran.
Arafi meraih gelar mujtahid, yang memberinya kewenangan mengeluarkan fatwa atau putusan hukum Islam secara mandiri.
Kariernya berkembang pesat di bawah kepemimpinan Khamenei.
Ia pernah menjadi imam shalat Jumat di Meybod dan kemudian di Qom — posisi yang menunjukkan kepercayaan tinggi dari pucuk kepemimpinan Iran.
Arafi juga pernah memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa, lembaga yang melatih ulama dari Iran dan berbagai negara.
Pada 2019, ia diangkat menjadi anggota Dewan Garda Iran, lembaga konstitusional yang memiliki kewenangan besar dalam: Menyeleksi undang-undang dan menentukan kelayakan kandidat politik.
Selain itu, ia juga memiliki posisi di Majelis Ahli, badan yang berwenang memilih Pemimpin Tertinggi Iran.
Menurut kajian lembaga pemikir Council on Foreign Relations, kombinasi jabatan administratif dan teologis yang dipegang Arafi menempatkannya secara kokoh di inti elite ulama Iran.
Berdasarkan konstitusi Iran, Pemimpin Tertinggi harus dipilih oleh Majelis Ahli dan berasal dari ulama Syiah senior.
Setelah wafatnya Khamenei, pemerintah Iran membentuk dewan kepemimpinan sementara untuk menjalankan fungsi-fungsi utama negara hingga proses suksesi resmi selesai.
Penunjukan Arafi sebagai Pemimpin Transisi menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas di tengah konflik eksternal dan tekanan internasional.
Arafi dikenal vokal mengenai peran lembaga pendidikan agama dalam politik Iran.
Dalam pernyataan sebelumnya, ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan agama harus berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan kaum tertindas, bersifat politis dan revolusioner, serta memiliki pendekatan internasional.
Pengamat menilai, meski memiliki kredensial kuat di lingkaran elite, Arafi tidak memiliki basis politik independen di luar struktur institusional.
Hal ini bisa memengaruhi gaya kepemimpinannya — terutama dalam menghadapi konflik regional yang sedang berlangsung.
Kematian Khamenei mengakhiri hampir 37 tahun kepemimpinannya.
Transisi ini menjadi peralihan kepemimpinan tertinggi kedua sejak Revolusi Islam 1979.
Kini, Iran menghadapi ujian besar:
Menjaga stabilitas internal
Mengelola tekanan internasional
Menghadapi eskalasi militer di kawasan
Dan di tengah semua itu, sosok Alireza Arafi menjadi figur sentral dalam menentukan arah masa depan Republik Islam Iran.
Iran memasuki era baru.
Pertanyaannya sekarang
pakah Alireza Arafi akan melanjutkan garis keras Khamenei, atau membawa pendekatan berbeda?
Kita akan melihat bagaimana proses suksesi resmi berjalan dan bagaimana dunia merespons perubahan di Teheran.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________