KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Ketegangan perang di Timur Tengah ternyata memicu fenomena baru.
Orang-orang superkaya di kawasan tersebut dilaporkan berbondong-bondong meninggalkan Timur Tengah menggunakan jet pribadi sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari lalu.
Lonjakan permintaan ini terjadi karena penerbangan komersial di kawasan Teluk terganggu akibat penutupan wilayah udara yang dipicu oleh serangan rudal dan drone.
Salah satu jalur paling sensitif dalam konflik ini adalah Strait of Hormuz, yang menjadi titik penting perdagangan energi dunia.
Akibat situasi keamanan yang tidak menentu, banyak maskapai komersial terpaksa membatalkan atau mengubah rute penerbangan mereka.
Kondisi tersebut membuat banyak pelancong terdampar di berbagai negara di Timur Tengah.
Namun bagi kalangan superkaya, ada solusi lain: menyewa jet pribadi.
Menurut pendiri perusahaan jet pribadi AirX, John Matthews, permintaan charter jet pribadi melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir.
Permintaan datang dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga dengan kekayaan sangat besar hingga perusahaan multinasional yang ingin mengevakuasi para eksekutif mereka.
Selain itu, kelompok lain seperti tim olahraga dan rombongan tur juga ikut menggunakan layanan jet pribadi untuk keluar dari kawasan konflik.
Lonjakan permintaan ini bahkan membuat harga sewa jet pribadi melonjak drastis.
CEO perusahaan charter SHY Aviation, Bernardus Vorster, mengungkapkan bahwa jumlah penerbangan jet pribadi meningkat tajam.
Biasanya hanya sekitar 10 hingga 15 penerbangan jet pribadi yang berangkat dari kota-kota seperti Muscat, Dubai, dan Riyadh.
Namun dalam beberapa hari terakhir, jumlahnya melonjak hingga 98 penerbangan dalam satu hari.
Lonjakan permintaan tersebut membuat harga charter meningkat drastis.
Sebagai contoh, satu penerbangan jet pribadi dari Muscat menuju Istanbul yang memakan waktu sekitar lima jam kini bisa menelan biaya hingga 145 ribu dolar AS atau sekitar Rp2,4 miliar.
Padahal sebelum konflik terjadi, penerbangan yang sama biasanya hanya sekitar 60 ribu dolar AS.
Artinya harga sewa jet pribadi melonjak lebih dari 140 persen.
Selain Istanbul, beberapa tujuan lain yang menjadi favorit para penumpang adalah Athens dan Mumbai.
Kota-kota tersebut dianggap relatif aman dan cukup dekat dari kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, layanan jet pribadi sebenarnya tidak mampu menggantikan jaringan penerbangan komersial yang jauh lebih besar.
Rata-rata jet pribadi hanya mampu membawa sekitar 12 penumpang.
Selain itu, jumlah pesawat yang tersedia di kawasan juga sangat terbatas, hanya sekitar 40 hingga 50 unit.
Akibatnya, hanya sebagian kecil orang yang mampu meninggalkan kawasan konflik dengan cara ini.
Sementara itu, puluhan ribu orang lainnya masih berusaha keluar dari Timur Tengah dengan berbagai cara.
Sejumlah pemerintah bahkan mulai menyiapkan penerbangan evakuasi bagi warga negaranya.
Bahkan United States Department of State menyatakan telah memfasilitasi puluhan penerbangan charter untuk mengevakuasi ribuan warga Amerika dari kawasan tersebut.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting.
Ketika perang terjadi, orang-orang superkaya memiliki cara sendiri untuk keluar dari zona konflik.
Namun bagi banyak orang lainnya, meninggalkan kawasan perang bukanlah pilihan yang mudah.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________