UPDATE TERKINI! Kondisi Perekonomian Indonesia di Sektor Keuangan Perbankan


Selasa, 27 Januari 2026 | 23:26 WIB | dilihat

Di saat dunia dibayangi perang dagang, tensi geopolitik, dan pasar keuangan global yang makin bergejolak, satu pertanyaan besar muncul: sekuat apa ekonomi dan sistem keuangan Indonesia menghadapi 2026
awabannya datang langsung dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK. Hasilnya: Indonesia masih berdiri kokoh, tapi tetap harus waspada.

KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua OJK, dan Ketua LPS menyampaikan bahwa sepanjang triwulan IV 2025, kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional tetap terjaga dan resilien.

Kunci utamanya ada pada koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas, di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.

Tekanan global memang nyata. Ketegangan perang dagang AS–Tiongkok, eskalasi geopolitik, hingga perubahan arah kebijakan moneter global membuat volatilitas pasar meningkat di awal 2026. The Fed bahkan memangkas suku bunga acuannya 50 basis poin ke kisaran 3,50–3,75% pada akhir 2025
MF pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global di 3,3% pada 2025 dan 2026.

Di tengah situasi itu, ekonomi Indonesia justru tetap kuat
ertumbuhan ekonomi 2025 diperkirakan sekitar 5,2%, dan meningkat menjadi 5,4% di 2026. Dorongannya datang dari permintaan domestik, stimulus fiskal–moneter, serta keyakinan pelaku usaha yang membaik.

PMI manufaktur berada di zona ekspansi, penjualan ritel tumbuh positif, dan neraca perdagangan masih mencatat surplus
ikuiditas juga longgar, dengan pertumbuhan M0 sebesar 11,4% dan M2 sebesar 9,6% yoy.

Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia per Desember 2025 mencapai USD156,5 miliar, setara 6,3 bulan impor, jauh di atas standar internasional
eski Rupiah sempat melemah akibat arus keluar modal global, BI menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi terukur di pasar NDF, DNDF, dan spot. Bahkan pada 26 Januari 2026, Rupiah ditutup menguat di Rp16.770 per dolar AS.

Inflasi Terkendali
nflasi 2025 tercatat 2,92% yoy, masih dalam sasaran 2,5±1%. Inflasi inti rendah, sementara tekanan harga pangan terus ditangani lewat sinergi TPIP–TPID dan Program Ketahanan Pangan Nasional.

Dari sisi fiskal, APBN menjadi peredam guncangan utama
elanja negara 2025 mencapai Rp3.451 triliun, dengan fokus besar pada program perlindungan daya beli masyarakat, seperti Makan Bergizi Gratis, PKH, subsidi energi, KUR, hingga stimulus UMKM
efisit APBN tercatat 2,92% dari PDB, masih dalam batas aman.

Pasar keuangan juga menunjukkan sinyal positif. Yield SBN 10 tahun turun ke 6,01%, IHSG melesat 22,13% yoy di akhir 2025 dan lanjut menguat di awal 2026.

Perbankan tetap solid, dengan CAR 25,87%, NPL rendah, dan kredit tumbuh 9,6% yoy.

OJK dan LPS pun aktif menjaga stabilitas. Mulai dari relaksasi kredit wilayah bencana, pemberantasan pinjol ilegal, hingga penguatan literasi dan perlindungan nasabah.

Bahkan, Indonesia Anti Scam Center berhasil mengembalikan Rp161 miliar kepada korban penipuan keuangan.

#KSSK #EkonomiIndonesia #StabilitasKeuangan #BI #OJK #LPS #APBN2025 #Inflasi #Rupiah #IHSG #Perbankan #UMKM #StimulusEkonomi #AstaCita #KeuanganNasional


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved