Koalisi Perdana Menteri Sanae Takaichi menang telak dalam pemilu musim dingin yang langka, menguasai parlemen, dan langsung memicu gejolak pasar serta ketegangan geopolitik.
Apa dampaknya bagi ekonomi Jepang, hubungan dengan China, dan stabilitas kawasan Asia?
Pemilihan umum Jepang yang digelar Minggu, 8 Februari, berakhir dengan kemenangan besar Partai Demokrat Liberal atau LDP yang dipimpin Sanae Takaichi.
Partai ini diproyeksikan meraih hingga 328 dari total 465 kursi di majelis rendah parlemen.
Hanya kurang dari dua jam setelah pemungutan suara ditutup, LDP sudah melampaui ambang mayoritas 233 kursi—menjadikannya salah satu hasil terbaik sepanjang sejarah partai tersebut.
Bersama mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang (Ishin), Takaichi kini menguasai mayoritas super dua pertiga, yang memungkinkan pemerintah mengesampingkan majelis tinggi dalam pengesahan undang-undang.
Dalam wawancara televisi, Takaichi menegaskan bahwa pemilu ini adalah mandat rakyat untuk perubahan besar, khususnya di bidang ekonomi, fiskal, dan keamanan nasional.
Pemilu ini sendiri terbilang tidak biasa. Digelar di tengah musim dingin, salju tebal memaksa warga berjalan kaki menembus suhu di bawah nol derajat.
Bahkan beberapa tempat pemungutan suara harus tutup lebih awal akibat cuaca ekstrem.
Namun kondisi itu tak menyurutkan partisipasi pemilih. Banyak warga tertarik pada citra Takaichi yang tegas, lugas, dan pekerja keras.
Ia juga berhasil menarik simpati pemilih muda, bahkan memicu fenomena “sanakatsu” atau Sanae-mania.
Kemenangan besar ini membawa konsekuensi besar.
Salah satu janji utama Takaichi adalah menangguhkan pajak penjualan 8% untuk makanan, demi membantu rumah tangga menghadapi kenaikan harga.
Namun rencana ini justru mengguncang pasar keuangan. Investor khawatir bagaimana Jepang—yang memiliki beban utang tertinggi di antara negara maju—akan membiayai kebijakan tersebut.
Di sisi geopolitik, kemenangan Takaichi membuat China waspada.
Beberapa minggu setelah menjabat, ia secara terbuka menguraikan skenario respons Jepang jika China menyerang Taiwan.
Beijing merespons dengan langkah balasan, termasuk imbauan agar warganya tidak bepergian ke Jepang.
Sebaliknya, Amerika Serikat mendukung penuh. Presiden Donald Trump bahkan berencana menjamu Takaichi di Gedung Putih.
Presiden Taiwan juga langsung memberi ucapan selamat, menilai kemenangan ini penting bagi keamanan kawasan.
Mandat kuat ini membuka jalan bagi Jepang untuk mempercepat penguatan pertahanan, sebuah langkah yang berpotensi memperbesar ketegangan di Asia Timur.
Bagi publik dan pelaku ekonomi, hasil pemilu ini perlu dicermati dengan jeli.
Masyarakat mesti memahami dampak kebijakan pajak terhadap harga dan daya beli, serta mengikuti pengumuman resmi pemerintah Jepang.
Pelaku pasar dan investor perlu memperhatikan sinyal keberlanjutan fiskal yang dijanjikan pemerintah, sekaligus mencermati dinamika geopolitik di kawasan Asia-Pasifik.
Sementara itu, otoritas menegaskan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi, dialog regional, dan transparansi kebijakan, agar perubahan besar ini tidak menimbulkan risiko jangka panjang.
#Jepang #PemiluJepang #SanaeTakaichi #LDP #PolitikAsia #EkonomiJepang #PajakJepang #ChinaJepang #KeamananAsia #Taiwan #BeritaInternasional #Geopolitik #PasarKeuangan #AsiaPasifik #Pemilu2026