Malaysia Dukung Pakistan Jadi Penengah AS–Iran! Jangan Cuma Gencatan Senjata, Tapi Akhiri Konflik


Kamis, 26 Maret 2026 | 01:09 WIB | dilihat

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Tapi di tengah situasi yang makin genting, muncul langkah diplomatik yang bisa jadi titik balik. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, secara resmi menyatakan dukungan terhadap inisiatif Pakistan untuk menjembatani dialog antara Amerika Serikat dan Iran.

Langkah ini bukan sekadar simbolis. Di tengah eskalasi konflik yang berisiko meluas, upaya membangun jalur komunikasi justru menjadi semakin krusial.

Dalam pernyataannya pada 25 Maret 2026, Anwar memberikan apresiasi tinggi kepada Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Ia menilai Pakistan punya posisi strategis sebagai suara kredibel di dunia Muslim, yang bisa membantu membuka ruang negosiasi yang lebih bermakna.

Apalagi sebelumnya, jalur diplomasi juga sudah mulai dirintis oleh Oman. Artinya, ada momentum yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menurunkan tensi konflik.

Namun, Anwar mengingatkan satu hal penting: diplomasi tidak boleh setengah hati.

Menurutnya, dunia sudah terlalu sering melihat gencatan senjata yang hanya menjadi “jeda sementara”, bukan solusi jangka panjang. Konflik berhenti sebentar, lalu meledak lagi dengan dampak yang lebih besar.

Anwar menegaskan, kawasan Timur Tengah berhak mendapatkan perdamaian yang benar-benar berkelanjutan—bukan sekadar pause dalam konflik.

Di sisi lain, Malaysia juga secara tegas menyatakan dukungannya terhadap hak Iran dalam mempertahankan kedaulatannya, sesuai dengan hukum internasional. Ini terutama terkait dengan serangan yang terjadi di wilayah Iran maupun Lebanon, yang melibatkan Israel.

Sikap ini sekaligus dibarengi kritik keras terhadap apa yang disebut sebagai “standar ganda” dalam penerapan hukum internasional.

Anwar menyoroti bahwa selama ini, prinsip rules-based order sering digunakan secara selektif. Ada pihak yang dilindungi dari akuntabilitas, sementara pihak lain justru dibatasi haknya untuk membela diri.

Ia menegaskan, kredibilitas hukum internasional sangat bergantung pada konsistensi. Kalau aturan hanya ditegakkan untuk sebagian pihak, maka kepercayaan global terhadap sistem itu bisa runtuh.

Bukan hanya soal politik dan militer, Anwar juga mengingatkan dampak besar konflik ini terhadap ekonomi kawasan, khususnya negara-negara Teluk yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council.

Negara-negara ini sangat rentan terhadap gejolak konflik, terutama karena perannya dalam pasar energi global. Jika situasi memburuk, dampaknya bisa langsung terasa ke harga minyak dunia, distribusi energi, hingga stabilitas ekonomi global.

Anwar menegaskan, rakyat sipil di kawasan Teluk tidak boleh menjadi korban dari keputusan konflik yang dibuat oleh pihak luar.

Karena itu, ia menyerukan semua pihak untuk menahan diri—baik dalam aksi militer maupun retorika politik.

Menariknya, langkah Malaysia tidak berhenti di pernyataan saja.

Dalam beberapa hari terakhir, Anwar Ibrahim melakukan diplomasi maraton. Ia menghubungi berbagai pemimpin dunia, mulai dari negara-negara GCC, Turki, Mesir, Indonesia, Jepang, hingga Pakistan.

Tujuannya jelas: memahami situasi secara lebih dalam, sekaligus mendorong deeskalasi total.

#AnwarIbrahim #Malaysia #Pakistan #Iran #AmerikaSerikat #TimurTengah #Geopolitik #PerangIran #Diplomasi #GCC #KrisisGlobal #BeritaInternasional #KonflikDunia #PerdamaianDunia #EkonomiGlobal #HargaMinyak #BreakingNews #KontanTV #NewsUpdate #WorldNews


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved