Inggris Tolak Rencana Trump! Operasi Buka Selat Hormuz Bukan Misi NATO


Rabu, 18 Maret 2026 | 02:15 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Ketegangan di Timur Tengah kini tidak hanya melibatkan konflik militer, tetapi juga memicu perbedaan sikap di antara negara-negara Barat.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa upaya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak akan dilakukan melalui NATO.

Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta sekutu-sekutunya mengirim kapal perang untuk mengawal tanker minyak di selat paling strategis di dunia tersebut.

Penutupan Selat Hormuz terjadi di tengah perang yang melibatkan Iran, yang kini telah memasuki minggu ketiga.

Situasi ini memicu lonjakan harga minyak dunia hingga melampaui 100 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran terhadap dampak ekonomi global.

Menanggapi situasi tersebut, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa negaranya sedang bekerja sama dengan berbagai sekutu internasional untuk merancang langkah kolektif guna memulihkan kebebasan navigasi di kawasan itu.

Starmer menyatakan bahwa tujuan utama rencana tersebut adalah membuka kembali jalur pelayaran dan meredakan dampak ekonomi akibat penutupan selat.

Namun ia menegaskan dengan jelas bahwa operasi tersebut tidak akan berada di bawah payung NATO.

Menurutnya, jika misi itu dilakukan, maka akan berbentuk koalisi negara mitra, bukan operasi resmi NATO.

Starmer juga menegaskan Inggris tidak ingin terseret lebih jauh dalam konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Seruan Amerika Serikat untuk mengirim kapal perang ternyata tidak langsung disambut oleh negara-negara Eropa.

Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mengatakan bahwa negaranya menolak partisipasi militer dalam operasi tersebut.

Sikap serupa juga disampaikan oleh Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles, yang menegaskan Madrid sama sekali tidak mempertimbangkan keterlibatan militer.

Dari Jerman, juru bicara pemerintah Stefan Kornelius menegaskan bahwa konflik ini tidak berkaitan dengan NATO.

Sementara itu Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan Berlin tidak akan mengirim pasukan, namun tetap siap mendukung upaya diplomatik.

Meski banyak negara menolak, beberapa negara Eropa masih membuka ruang diskusi.

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan negaranya sejak awal tidak menginginkan perang dan menyerukan deeskalasi.

Namun ia menegaskan bahwa Denmark tetap akan mempertimbangkan berbagai opsi karena situasi saat ini dinilai sangat serius.

Pernyataan serupa juga datang dari Menteri Luar Negeri Lithuania Kestutis Budrys serta Menteri Luar Negeri Estonia Markus Tsahkna, yang menyatakan kesiapan untuk berdiskusi dengan Amerika Serikat mengenai situasi di Selat Hormuz.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump meminta sejumlah negara termasuk Inggris, Perancis, Jepang, Korea Selatan, hingga China untuk mengirim kapal perang guna mengawal tanker minyak di Selat Hormuz.

Trump bahkan memperingatkan bahwa menolak permintaan tersebut bisa berdampak buruk bagi masa depan NATO.

Kini pertanyaannya, apakah koalisi internasional benar-benar akan terbentuk untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz?

Ataukah perbedaan sikap di antara negara Barat justru akan memperumit situasi yang sudah tegang ini?

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved