KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Jepang kembali mencatatkan rekor yang mengkhawatirkan.
Jumlah kelahiran di Negeri Sakura turun selama sepuluh tahun berturut-turut hingga 2025. Data awal pemerintah menunjukkan, sepanjang 2025 hanya ada 705.809 bayi yang lahir, turun 2,1 persen dibanding tahun sebelumnya.
Angka ini menjadi tantangan besar bagi Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
Data dari Kementerian Kesehatan Jepang juga mencatat: 505.656 pasangan menikah pada 2025, naik tipis 1,1 persen.
Sementara angka perceraian turun 3,7 persen menjadi 182.969 kasus dan jumlah kematian mencapai 1.605.654 jiwa
Artinya, kematian jauh melampaui kelahiran.
Secara total, populasi Jepang per Februari 2026 diperkirakan tinggal 122,86 juta jiwa,turun sekitar 580 ribu orang dalam setahun.
Sebagai ekonomi terbesar keempat di dunia, Jepang kini menghadapi kombinasi masalah serius: angka kelahiran sangat rendah, populasi menyusut, dan masyarakat yang semakin menua.
Data terbaru bahkan menunjukkan jumlah warga berusia 100 tahun ke atas hampir menyentuh 100 ribu orang, dan sekitar 90 persen di antaranya adalah perempuan.
Dampaknya mulai terasa luas,kKekurangan tenaga kerja meningkat, tagihan jaminan sosial membengkak, dan jumlah pembayar pajak menyusut.
Sementara rasio utang Jepang sudah menjadi yang tertinggi di antara negara-negara ekonomi besar.
Penurunan populasi juga menghantam daerah pedesaan.
Sekitar empat juta rumah kini kosong
ebih dari 40 persen kotamadya disebut berisiko punah.
Pemerintah sebenarnya telah berjanji meningkatkan angka kelahiran, namun hasilnya masih terbatas.
Bahkan, Pemerintah Kota Tokyo meluncurkan aplikasi kencan resmi yang mengharuskan pengguna membuktikan status lajang dan menandatangani komitmen siap menikah.
Sejumlah ekonom menilai peningkatan imigrasi bisa menjadi solusi untuk memperlambat penurunan populasi dan menutup kekurangan tenaga kerja.
Namun di bawah tekanan partai konservatif Sanseito yang mengusung slogan Jepang diutamakan, pemerintah justru berjanji akan memperketat kebijakan imigrasi.
Wakil Kepala Sekretaris Kabinet, Masanao Ozaki, mengatakan pemerintah berupaya membangun ekonomi yang lebih kuat untuk meringankan beban biaya pengasuhan anak.
Namun ia mengakui, hingga kini tren penurunan angka kelahiran belum berhasil dibalikkan.
Pertanyaannya sekarang:
Apakah Jepang bisa keluar dari krisis demografi ini
taukah negara dengan populasi menua tercepat di dunia ini akan menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat dalam dekade mendatang?
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________