Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah Iran mengancam akan memblokir ekspor minyak Timur Tengah ke negara-negara yang dianggap sebagai sekutu Amerika Serikat dan Israel. Ancaman tersebut disampaikan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui juru bicaranya Ali Mohammad Naini, yang menyatakan blokade dapat diberlakukan selama konflik Iran masih berlangsung. Jika benar terjadi, langkah ini berpotensi mengguncang pasar energi dunia karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pemasok minyak terbesar bagi ekonomi global.
Tekanan juga terasa di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Ancaman keamanan membuat lalu lintas kapal di kawasan tersebut nyaris berhenti. Meski demikian, sejumlah analis menilai Iran kemungkinan tidak akan menutup selat itu dalam jangka panjang, karena sebagian besar perdagangan nonmigas Iran sendiri juga bergantung pada jalur tersebut. Dalam situasi ini, China disebut menjadi pembeli penting minyak Iran, sementara Rusia melalui Kremlin mengakui memiliki komunikasi dengan berbagai pihak terkait konflik namun tidak mengonfirmasi adanya dukungan intelijen kepada Teheran.
Ketegangan geopolitik ini juga memicu kontroversi di luar sektor energi. Sejumlah pihak menilai organisasi olahraga dunia seperti FIFA dan IOC tidak bersikap konsisten dalam merespons konflik global, dibandingkan saat mereka menjatuhkan sanksi terhadap Rusia pada 2022. Di sektor teknologi, perusahaan AI Anthropic bahkan menggugat pemerintahan Presiden Donald Trump setelah ditetapkan sebagai risiko keamanan nasional terkait penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam konflik Iran. Dengan berbagai dimensi yang terlibat—energi, politik, olahraga, hingga teknologi—eskalasi konflik ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas global.