Ekonom Ungkap Proyek PLTSa Harusnya Tidak Dilaksanakan Danantara, Ini Alasannya


Selasa, 20 Januari 2026 | 16:45 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Proyek Percepatan Pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik, atau PSEL menjadi kontroversi lantaran mendapat sorotan publik karena bisa menimbulkan krisis fiskal Indonesia di tahun ini.

Ekonom terkemuka, Dipo Satria Ramli, menegaskan bahwa proyek PSEL seharusnya tidak dikelola oleh Danantara – Badan Pengelola Investasi strategis milik Indonesia – karena indikator keuangannya yang kurang menjanjikan.

Menurut Dipo, Internal Rate of Return (IRR) proyek ini hanya berkisar 10-12 persen, angka yang ia sebut sangat rendah untuk standar investasi di Indonesia. Bahkan, CIO Danantara, Pandu Sjahrir, mengakui bahwa bila dikonversi ke dolar, IRR berada di bawah 10 persen.

Selain IRR yang lemah, biaya listrik yang dihasilkan PSEL jauh lebih tinggi dibandingkan pembangkit fosil konvensional. Hal ini berarti beban tambahan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama mengingat kontrak pembelian listrik selama 30 tahun dengan Independent Power Producer (IPP) swasta.

Dipo menyoroti risiko yang tersembunyi: bila PLN gagal membayar, proyek dapat terhenti, sehingga beban kegagalan beralih kembali ke pemerintah. Meskipun tarif listrik diperkirakan mencapai 20 sen per kWh, pembayaran tetap akan disubsidi oleh APBN.

Dari sisi fiskal, Indonesia tengah menghadapi defisit APBN 2025 sebesar Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen PDB – hampir mendekati batas maksimum 3 persen yang ditetapkan undang-undang. Defisit ini melampaui target awal 2,53 persen dan proyeksi semester 2,78 persen.

Karena kondisi fiskal yang ketat, Dipo menyarankan pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek energi sampah ini sebelum memulai konstruksi (groundbreaking). Ia khawatir proyek ini dapat memperparah defisit negara.

Selain itu, Dipo menuntut transparansi penuh dari Danantara terkait hasil Feasibility Study (FS) proyek PSEL. Tanpa akses ke studi kelayakan yang jelas, risiko proyek berhenti di tengah jalan tetap tinggi.

Kesimpulannya, proyek PSEL memiliki potensi lingkungan yang menarik, namun tantangan finansial, tarif listrik tinggi, dan kurangnya keterbukaan data menjadi hambatan utama. Pemerintah dan Danantara perlu menimbang kembali kelayakan ekonomi serta memastikan transparansi demi kepentingan publik.

Itulah rangkuman kami tentang kontroversi proyek sampah menjadi listrik. Jangan lupa like, share, dan subscribe untuk update berita ekonomi dan energi terbaru. Sampai jumpa di video berikutnya!

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved