Ancaman Koreksi 25%: Investor Wajib Tahu Risiko Jual Emas dan Perak Sekarang


Sabtu, 17 Januari 2026 | 23:45 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Baru-baru ini, pasar logam mulia mencatat sejarah baru: pada 15 Januari 2026, harga perak melampaui US$ 90 per ons, bahkan menyentuh puncak US$ 92,15 pada perdagangan pagi di New York, dan menutup hari di level rekor US$ 90,869, naik 5,8%.

Sementara itu, emas tak mau ketinggalan. Harga emas sempat menembus US$ 4.650,10 per ons sebelum berakhir pada US$ 4.263,30, naik 0,8% pada hari yang sama, menandakan tekanan beli yang kuat di tengah ketidakpastian global.

Pendorong utama lonjakan kedua logam ini adalah gejolak geopolitik, khususnya situasi di Iran yang semakin tidak stabil dan potensi perubahan rezim secara tiba-tiba.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menambah bahan bakar pasar dengan menyampaikan kepada para pengunjuk rasa Iran bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” dan secara terbuka mendorong aksi protes terhadap rezim Islam yang berkuasa sejak 1978.

“Emas adalah mata uang cadangan utama dunia. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, ketika Trump bisa bangun pagi dan tiba?tiba mengatakan ingin menyerbu Greenland, Anda seharusnya membeli emas,” ujar analis Veritas Investment Research, Martin Pradier, kepada Bloomberg News.

Selain ketegangan Iran, ada dua faktor lain yang memperkuat sentimen bullish: pertama, konflik yang memanas antara pemerintahan Trump dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, termasuk penyelidikan pidana terhadap Powell; kedua, penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh Amerika Serikat pada 3 Januari, yang kini menghadapi dakwaan perdagangan narkoba di New York.

Data The Wall Street Journal menunjukkan bahwa sejak 31 Desember, harga perak telah melonjak lebih dari 26% dan mencatat kenaikan 212% dalam 52 minggu terakhir. Emas pun tidak kalah, dengan kenaikan hampir 7% sepanjang tahun dan lonjakan 71% dalam setahun terakhir.

Indeks Kekuatan Relatif (RSI) perak berada di level 72 pada Rabu, mengindikasikan kondisi jenuh beli. Jika RSI menembus angka 80, itu menjadi sinyal kuat bahwa pasar sudah terlalu panas dan berisiko koreksi tajam.

Namun, optimisme tetap mengemuka. Kepala investasi Lotus Asset Management Ltd., Hao Hong, memperkirakan harga perak dapat mencapai US$ 150 per ons, mengingat permintaan yang terus menguat.

Menurut Max Layton, Global Head of Commodities Research di Citi, pola pembeli perak dan emas telah berubah dalam beberapa bulan terakhir. Dulu didorong oleh bank sentral dan investor institusional China, kini pasar dipimpin oleh hedge fund, ETF, serta investor ritel dan spekulan.

Layton memproyeksikan bahwa dalam tiga bulan ke depan, harga perak dapat mencapai US$ 100 per ons, sementara emas berpotensi menyentuh US$ 5.000 per ons.

Namun, pandangan jangka menengahnya lebih hati?hati. Dalam periode enam hingga dua belas bulan ke depan, Layton menargetkan harga perak turun ke US$ 70 per ons dan emas ke US$ 4.000 per ons, mengindikasikan kemungkinan koreksi lebih dari 25%.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved