KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memutuskan untuk melakukan shutdown atau penutupan layanan usai negara tersebut diguncang demo besar selama berhari-hari akibat krisis politik dan ekonomi yang kian memburuk.
Massifnya aksi massa itu dipicu inflasi tinggi, anjloknya nilai mata uang, serta meningkatnya biaya hidup masyarakat.
Akibat kebijakan shutdown tersebut, aktivitas di Iran mengalami kelumpuhan pada Rabu (31/12/2025), sebagaimana dilansir Fox News.
Kebijakan shutdown membuat sebagian besar kegiatan bisnis, universitas, serta kantor pemerintahan berhenti beroperasi di sedikitnya 21 dari 31 provinsi di Iran, termasuk Teheran.
Kebijakan shutdown ini bertujuan untuk menahan amarah publik.
Di berbagai kota besar, demonstrasi terus berlanjut dan memasuki hari keempat berturut-turut, disertai bentrokan antara massa dan aparat keamanan.
Rekaman video yang beredar luas di media sosial, serta dibagikan oleh kelompok oposisi People’s Mojahedin Organization of Iran (MEK), menunjukkan situasi mencekam di sejumlah kota seperti Shiraz, Isfahan, Kermanshah, dan Teheran.
Massa terlihat memadati jalanan utama sambil meneriakkan slogan anti-pemerintah dan berhadapan langsung dengan pasukan keamanan.
Sejumlah rekaman juga memperlihatkan teriakan histeris dan suara yang diduga tembakan, ketika demonstran melemparkan berbagai benda ke arah aparat.
Fokus aksi juga terlihat di kawasan pasar Teheran, tempat para pedagang ikut turun ke jalan dan menutup aktivitas ekonomi sebagai bentuk protes.
Salah satu insiden paling dramatis dilaporkan terjadi di Kota Fasa, wilayah selatan Iran bagian tengah.
Di sana, demonstran melemparkan benda keras ke gerbang sebuah kompleks pemerintahan, mengguncangnya berulang kali hingga akhirnya terbuka.
Kelompok oposisi melaporkan, massa kemudian menyerbu kantor gubernur setempat, yang memicu respons keras dari aparat keamanan.
Menurut laporan Reuters, pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan melepaskan tembakan untuk membubarkan massa. Sejumlah helikopter militer juga terlihat terbang rendah di atas Kota Fasa, yang diduga bertujuan mengintimidasi warga serta mencegah meluasnya kerusuhan ke wilayah lain.
Gelombang unjuk rasa ini terjadi di tengah perubahan signifikan di lingkaran elite kekuasaan Iran, yang turut memperbesar ketidakpastian politik.
Pada hari yang sama, Pezeshkian menunjuk Abdolnaser Hemmati, mantan menteri ekonomi, sebagai kepala bank sentral Iran yang baru.
Penunjukan tersebut dilakukan setelah Mohammad Reza Farzin mengundurkan diri dari jabatannya.
Pezeshkian memperingatkan bahwa kepala bank sentral yang baru akan menghadapi tekanan dan kritik besar di tengah krisis ekonomi yang sedang berlangsung, sebagaimana dilaporkan kantor berita IRNA.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengumumkan pengangkatan Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi sebagai wakil panglima tertinggi Garda Revolusi Iran.
Rangkaian penunjukan dan pergantian pejabat ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di jalanan, ketika demonstrasi, pemogokan, dan bentrokan terus meluas di berbagai kota.
Situasi tersebut mencerminkan tekanan ganda yang dihadapi pemerintah Iran, yakni krisis ekonomi yang belum mereda serta tantangan politik akibat ketidakpuasan publik yang semakin terbuka.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________