Respon Ancaman AS, Denmark Mulai Kerahkan Pasukan dan Peralatan Militer ke Greenland


Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Pemerintah Denmark merespon serius ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan mencaplok wilayah Greenland.

Mengantisipasi ancaman tersebut kini Pemerintah Denmark mulai mengerahkan peralatan militer dan pasukan pendahulu ke pulau strategis tersebut.

Pasukan pendahulu dikirim untuk menyiapkan logistik dan infrastruktur guna mendukung kemungkinan penempatan pasukan dalam jumlah lebih besar.

Hal ini tak lepas dari posisi Greenland sebagai wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark yang memiliki posisi strategis yang kaya sumber daya alam.

Penyiar lokal DR, Rabu, melaporkan satuan komando pendahulu Denmark telah dikirim ke Greenland.

Unit ini bertugas menyiapkan fasilitas serta jalur pasokan agar siap digunakan jika pasukan utama Denmark maupun sekutunya dikerahkan.

Penguatan tersebut diperkirakan melibatkan prajurit Angkatan Darat Denmark untuk memperkuat kehadiran Angkatan Bersenjata Denmark di Greenland.

Namun, sebagian besar kemampuan tempur Denmark saat ini masih terikat pada komitmen NATO di kawasan Baltik.

Sebelumnya pada Selasa (13/1), Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen memastikan rencana penguatan kehadiran militer Denmark di Greenland secara lebih permanen.

Denmark bahkan bersiap menggelar laihan militer bersama pasukan dari negara NATO di Greenland, seperti pernah dilakukan di tahun lalu.

Greenland selama ini menarik perhatian Amerika Serikat karena letaknya strategis di Arktik dan kaya sumber daya mineral.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Minggu (11/1/2026) menyatakan bahwa A-S harus mengakuisisi Greenland untuk mencegah pulau tersebut dikuasai Rusia atau China.

Trump menyebut, kepemilikan Greenland merupakan kebutuhan mutlak bagi keamanan ekonomi A-S.

Denmark dan pemerintah Greenland kembali menolak usulan penjualan wilayah tersebut dan menegaskan kedaulatan Denmark atas Greenland.

Pernyataan Trump disebut telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Greenland. Menteri Energi Greenland menyebut sejumlah warga mengalami kesulitan tidur akibat isu tersebut.

Menteri Urusan Bisnis dan Sumber Daya Mineral Greenland Naaja Nathanielsen, Selasa (13/1/2026), mengatakan perdana menteri serta seluruh pimpinan partai politik di Greenland telah menyatakan dengan jelas bahwa wilayah itu tidak berniat menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Menurut Nathanielsen, Greenland adalah sekutu AS, tetapi Greenland bukan bagian dari Amerika.

Ia menyebut banyak warga merasa dikhianati oleh retorika Trump terkait Greenland.

Menanggapi kekhawatiran AS soal kehadiran Rusia dan China di Greenland, Nathanielsen menyatakan Rusia merupakan negara Arktik, sementara China telah lama menunjukkan ketertarikan pada kawasan tersebut.

Menurutnya, Greenland selama bertahun-tahun juga mendorong peningkatan pemantauan di kawasan Arktik.

Saat ditanya mengenai kemungkinan dukungan NATO jika terjadi invasi A-S, Nathanielsen menyatakan situasi tersebut akan menandai perubahan tatanan global.

Menurutnya, kondisi tersebut akan mencerminkan runtuhnya supremasi hukum, hukum internasional, serta berbagai perjanjian dan traktat yang berlaku.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, dilaporkan tengah membahas kemungkinan penempatan pasukan di Greenland sebagai upaya meredakan kekhawatiran keamanan yang disampaikan Amerika Serikat.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved