KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Asia Tenggara bersiap menghadapi ancaman baru.
Bukan hanya konflik geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga energi melonjak, tetapi juga gelombang panas ekstrem yang diprediksi melanda kawasan ini.
Menurut prakiraan terbaru, suhu di sebagian besar wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berpotensi jauh lebih panas dari biasanya dalam beberapa bulan ke depan.
Jika prediksi ini benar, dampaknya bukan hanya cuaca yang menyengat, tetapi juga lonjakan konsumsi energi dan risiko tekanan pada jaringan listrik.
Menurut prakiraan dari ASEAN Specialized Meteorological Centre atau ASMC, suhu di kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan berada di atas rata-rata pada periode Maret hingga Mei 2026.
Bahkan, kemungkinan suhu di atas normal di Indonesia dan Malaysia diperkirakan mencapai 80 hingga 100 persen.
Artinya, hampir seluruh wilayah berpotensi mengalami suhu yang lebih panas dibandingkan kondisi normal.
Fenomena panas ini diperkirakan akan muncul lebih dulu di Indonesia dan Malaysia, sebelum kemudian meluas ke negara lain di Asia Tenggara.
Selain Indonesia, gelombang panas juga diperkirakan akan melanda beberapa wilayah lain seperti: Thailand dan Vietnam.
Sementara beberapa wilayah lain seperti Kamboja dan sebagian Filipina diperkirakan masih berada di kisaran suhu normal.
Namun para ahli memperingatkan bahwa jika tren panas terus meningkat, kawasan Asia Tenggara bisa menghadapi musim panas yang sangat ekstrem.
Gelombang panas ini terjadi di saat yang sama ketika ketegangan geopolitik meningkat akibat konflik antara United States, Israel, dan Iran.
Konflik tersebut telah mengganggu transportasi energi global, termasuk distribusi minyak dan gas.
Akibatnya, harga energi melonjak dan pasokan bahan bakar menjadi lebih ketat.
Bagi Asia Tenggara yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik, kondisi ini dapat menjadi tekanan besar.
Jika suhu meningkat, permintaan listrik untuk pendingin udara akan melonjak.
Namun di sisi lain, pasokan energi justru semakin terbatas.
Beberapa negara Asia Tenggara bahkan sudah mulai berburu pasokan gas tambahan di pasar global.
Importir energi di kawasan ini mulai membeli gas alam cair atau LNG dari pasar spot setelah pemasok utama, Qatar, menghentikan salah satu fasilitas ekspor terbesarnya.
Negara seperti Thailand dan Vietnam bahkan berusaha mendapatkan tambahan pengiriman LNG pada bulan Maret dan April.
Sementara itu, Singapore diperkirakan akan mengalami lonjakan harga listrik pada kuartal kedua tahun ini.
Di dalam negeri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG juga memperingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi datang lebih cepat.
Perubahan ini terjadi setelah fenomena La Niña yang lemah berakhir pada Februari 2026.
Saat ini kondisi iklim global berada pada fase netral dan berpotensi menuju El Niño pada pertengahan tahun.
Jika fenomena El Niño benar-benar terbentuk, suhu di Indonesia berpotensi menjadi lebih panas dan kering dari biasanya.
Menurut BMKG, beberapa wilayah Indonesia yang kemungkinan lebih cepat memasuki musim kemarau antara lain: pesisir utara Pulau Jawa, sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur, West Nusa Tenggara, East Nusa Tenggara, sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi
Secara keseluruhan, sekitar 114 zona musim di Indonesia diperkirakan mulai memasuki kemarau pada April 2026.
Kombinasi antara gelombang panas ekstrem, konflik energi global, dan kemarau yang datang lebih awal bisa menjadi tantangan serius bagi Asia Tenggara.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, kawasan ini bisa menghadapi lonjakan harga energi, tekanan pada listrik, hingga risiko kekeringan.
Pertanyaannya sekarang
pakah Asia Tenggara benar-benar siap menghadapi musim panas ekstrem tahun ini?
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________