Negosiasi Buntu, Iran Terancam Diserang


Sabtu, 21 Februari 2026 | 00:00 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Amerika Serikat dilaporkan bersiap melancarkan serangan ke Iran
iliter A-S disebut akan berada dalam status siap tempur mulai Sabtu, 21 Februari 2026
pakah dunia sedang menuju perang besar baru di Timur Tengah?

Militer Amerika Serikat dikabarkan telah berada dalam posisi siaga untuk kemungkinan aksi militer terhadap Iran.

Informasi ini disampaikan sejumlah pejabat keamanan nasional senior kepada Presiden A-S, Donald Trump, sebagaimana dilaporkan berbagai media Amerika dan dikutip Euronews.

Meski demikian, Trump disebut belum mengambil keputusan final dan masih melakukan konsultasi intensif dengan para penasihat utamanya.

Saat ini, Gedung Putih tengah mengevaluasi risiko eskalasi konflik di kawasan, termasuk dampak politik dan militer jika Washington memilih menahan diri.

Ketegangan tetap meningkat meski dialog antara Washington dan Teheran masih berlangsung di Jenewa, Swiss.

Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Rabu 18 Februari 2026, Trump melontarkan peringatan keras.

Ia menyebut bahwa jika Iran menolak membuat kesepakatan, Amerika Serikat mungkin akan menggunakan pangkalan militer di Diego Garcia dan lapangan udara di Fairford untuk memusnahkan potensi serangan dari rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya.

Seorang penasihat yang berbicara kepada Axios mengungkapkan bahwa Trump mulai kehilangan kesabaran.

Menurutnya, ada peluang hingga 90 persen bahwa aksi militer atau aksi kinetik bisa terjadi dalam beberapa minggu ke depan.

Sejumlah media AS melaporkan bahwa jika operasi militer dilakukan, kemungkinan besar akan berupa kampanye besar selama berminggu-minggu, dan berpotensi melibatkan Israel.

Salah satu faktor penentu waktu adalah kedatangan kapal induk USS Gerald R. Ford di Mediterania Timur dalam beberapa hari mendatang.

Di sisi lain, Pentagon juga dilaporkan akan menarik sementara sebagian personel militer dari Timur Tengah ke A-S atau Eropa dalam tiga hari ke depan, sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan Iran.

Beberapa analis bahkan menilai pemerintahan Trump kini berada lebih dekat menuju perang besar di Timur Tengah dibanding yang disadari publik Amerika.

Sementara itu, jalur diplomasi belum menunjukkan titik terang.

Penasihat Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff, dilaporkan telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, selama tiga jam di Jenewa pada 17 Februari 2026.

Meski kedua pihak mengklaim ada kemajuan, perbedaan mendasar masih belum terselesaikan.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut bahwa Trump telah menetapkan “garis merah” yang belum sepenuhnya diakui pihak Iran.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa meskipun Trump mengutamakan diplomasi, opsi militer tetap berada di atas meja.

Menanggapi ancaman tersebut, Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan bahwa Iran tidak akan melepaskan haknya dalam pengayaan nuklir.

Ia menyatakan bahwa pengayaan adalah dasar industri nuklir dan program Iran berjalan sesuai aturan International Atomic Energy Agency.

Menurutnya, tidak ada negara yang berhak merampas hak Iran untuk memanfaatkan teknologi nuklir secara damai.

Dengan meningkatnya ketegangan militer dan kebuntuan diplomasi, dunia kini menanti keputusan akhir dari Presiden Trump.

Apakah ini hanya tekanan politik untuk mempercepat kesepakatan, atau benar-benar menuju perang besar di Timur Tengah?

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved