Dunia Terbelah Usai AS Tangkap Maduro, Kecaman Mengalir dari China hingga Rusia


Senin, 05 Januari 2026 | 14:30 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Reaksi global atas serangan A-S dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro menunjukkan dunia terbelah tajam antara kecaman keras dan dukungan terbuka.

Mayoritas negara, termasuk China, Rusia, Iran, dan banyak negara Eropa serta Amerika Latin, menilai langkah A-S melanggar kedaulatan dan hukum internasional serta berisiko memicu eskalasi geopolitik baru.

Sementara sebagian kecil negara melihatnya sebagai upaya pembebasan politik, krisis Venezuela kini berpotensi berkembang dari konflik regional menjadi sumber ketegangan global yang lebih luas, dengan dampak serius terhadap stabilitas kawasan dan tatanan internasional.

Melansir CBS News, sejumlah negara di Amerika Latin langsung bereaksi atas serangan AS di Venezuela:

Kolombia, yang berbatasan langsung dengan Venezuela, mendesak deeskalasi segera. Pemerintah Kolombia menyatakan telah mengambil langkah untuk melindungi warga sipil, menjaga stabilitas perbatasan, serta mengantisipasi potensi kebutuhan kemanusiaan dan arus migrasi.

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyebut operasi A-S sebagai serangan kriminal dan menyerukan reaksi mendesak dari komunitas internasional.

Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menilai, aksi A-S sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Venezuela. Ia mengatakan serangan dan penangkapan Maduro telah melewati batas yang tidak bisa diterima dan mengancam stabilitas kawasan Amerika Latin sebagai zona damai.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China mendesak A-S menjamin keselamatan Maduro dan istrinya, membebaskan mereka segera, serta menghentikan upaya menggulingkan pemerintahan Venezuela.

Beijing menilai operasi militer A-S sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan kembali menegaskan kecaman kerasnya.

Iran dan Rusia juga turut mengecam serangan tersebut. Iran menyebut serangan A-S sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah Venezuela.

Sementara Rusia menyebut tindakan A-S sebagai agresi bersenjata yang sangat mengkhawatirkan.

Moskow menilai alasan yang digunakan A-S tidak berdasar dan menyerukan pencegahan eskalasi lebih lanjut melalui dialog. Rusia mendukung digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB serta menegaskan hak Venezuela menentukan nasibnya tanpa intervensi militer asing.

Korea Utara juga ikut mengutuk penangkapan Maduro sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara. Pyongyang menyebut langkah AS sebagai bukti watak hegemonik dan brutal Washington dalam mengejar dominasi global.

Uni Eropa menyatakan sedang memantau situasi dengan ketat. Kepala diplomat UE Kaja Kallas menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, sembari menekankan keselamatan warga negara Eropa di Venezuela sebagai prioritas utama.

Prancis menyebut kepergian Maduro sebagai kabar baik bagi rakyat Venezuela, namun mengakui metode yang digunakan A-S melanggar prinsip hukum internasional. Prancis menyerukan transisi kekuasaan yang damai dan demokratis.

Spanyol menawarkan diri menjadi mediator demi solusi damai. Inggris menegaskan tidak terlibat dalam operasi tersebut dan meminta semua pihak menghormati hukum internasional.

Jerman menilai Maduro membawa Venezuela ke jurang krisis, tetapi menyebut aspek legal intervensi A-S sebagai persoalan yang kompleks dan membutuhkan kajian lebih lanjut.

Berbeda dengan mayoritas negara, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji Trump atas kepemimpinan yang disebutnya berani dan bersejarah. Ia menyatakan dukungan penuh pemerintah Israel terhadap tindakan A-S yang diklaim bertujuan memulihkan kebebasan dan keadilan.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved