Krisis energi global semakin memanas setelah Kuwait mengumumkan pemangkasan produksi minyak karena kapal tanker tidak dapat melintasi Teluk Persia di tengah ancaman serangan Iran. Sebagai produsen minyak terbesar kelima di OPEC dengan produksi sekitar 2,6 juta barel per hari, Kuwait memilih menurunkan output sementara hingga situasi keamanan membaik. Kuwait Petroleum Corporation menyatakan produksi siap dipulihkan segera setelah jalur pelayaran kembali aman. Ketegangan ini langsung mengguncang pasar energi, dengan harga minyak mentah AS dilaporkan melonjak hingga 35% dalam sepekan, sementara Brent naik sekitar 28%, menandai lonjakan tajam di tengah kekhawatiran gangguan pasokan global.
Gangguan utama terjadi karena lumpuhnya Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Tanker-tanker berhenti beroperasi karena risiko serangan, sementara kapasitas penyimpanan minyak di negara-negara Teluk mulai penuh sehingga produksi terpaksa dikurangi. Irak bahkan memangkas sekitar 1,5 juta barel per hari, dan sektor gas juga ikut terdampak setelah Qatar menghentikan produksi LNG di tengah eskalasi konflik. Dengan kemungkinan pemangkasan produksi minyak global mencapai lebih dari 4 juta barel per hari jika Selat Hormuz tetap tertutup, ketegangan Iran–AS kini berpotensi memicu salah satu krisis energi paling serius dalam beberapa dekade.
#KrisisEnergi #HargaMinyak #Kuwait #SelatHormuz #Iran #OPEC #LNG #EnergiGlobal #Geopolitik #KontanNews