KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama blak-blakan dirinya mundur dari Pertamina karena tidak satu pandangan dengan Presiden ke-7 Republik Indonesia Jokowi.
Hal tersebut disampaikan Ahok saat dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) sebagai saksi perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Ahok mengatakan, ia seharusnya mengundurkan diri pada akhir Desember 2023 usai menyelesaikan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2024.
Namun, pengesahan RKAP 2024 melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) oleh Menteri BUMN baru dilakukan pada Januari, sehingga ia baru mengundurkan diri setelah pengesahan tersebut.
Ia mengaku keluar karena alasan politik, yani beda pandangan dengan Presiden Jokowi.
Ahok juga bercerita bahwa ia sempat meminta jabatan direktur utama Pertamina kepada Jokowi. Eks gubernur Jakarta ini menuturkan, permintaan itu ia ajukan demi memperbaiki perusahaan pelat merah di bidang perminyakan ini.
Menurut Ahok, jabatannya sebagai komisaris utama tidak punya wewenang yang cukup kuat untuk perbaiki Pertamina.
Terlebih selama 2 tahun terakhir ia menjabat, keputusan mengangkat direksi tidak melalui Dekom (Dewan Komisaris) sama sekali, langsung di bypass oleh Menteri BUMN.
Namun, permintaan Ahok itu ditolak Jokowi. Ahok menyebutkan, Jokowi juga pernah menolak sejumlah usul yang dia sampaikan. Bekas pasangan Jokowi pada Pilkada Jakarta 2012 ini pun menegaskan, penolakan Jokowi itu turut menjadi alasannya mundur dari Pertamina.
Ahok menegaskan, meski Pertamina menguasai pasar migas, namun pergerakan uang alias cash flow di perusahaan justru tidak terus mendapatkan untung.
Ahok menjelaskan, kondisi kerugian yang dialami Pertamina disebabkan pemerintah meminta agar barang subsidi tidak boleh dinaikkan.
Oleh sebab itu, Pertamina kerap meminjam dana untuk menutupi kerugian perusahaan.
Ahok mengaku sempat melaporkan persoalan tersebut kepada Presiden. Dia mengusulkan agar sistem subsidi diubah menjadi berbasis individu melalui mekanisme digital lewat aplikasi MyPertamina.
Namun, lagi-lagi usulan itu tidak disetujui Jokowi. Padahal, menurut Ahok, perubahan sistem subsidi itu dapat membuat Pertamina memperoleh keuntungan sekitar 6 miliar dollar AS per tahun.
#kontan #kontannews #kontantv