KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Fenomena disrupsi teknologi di tahun 2026 ini bukan lagi sekadar prediksi, melainkan realitas yang menyentuh dapur setiap rumah tangga di Indonesia. Di satu sisi, kecerdasan buatan (AI) menawarkan efisiensi; di sisi lain, ia menghadirkan gelombang ketidakpastian yang nyata bagi tenaga kerja kita.
Tahun 2026 menjadi titik balik di mana AI tidak lagi hanya membantu, tapi mulai menggantikan peran-peran rutin. Sektor teknologi dan administrasi menjadi yang paling awal terdampak. Banyak perusahaan kini lebih memilih tim kecil yang dibekali alat AI canggih daripada tim besar dengan proses manual.
Perusahaan global hingga lokal mulai melakukan pemangkasan demi menjaga struktur biaya di tengah investasi infrastruktur AI yang mahal. Bisa jadi kedatangan AI juga membuat marak PHK yang terjadi sehinga Presiden akan membentuk Satgas PHK. Tercatat pada Januari sampai April 2026 sudah terjadi PHK sekitar 15.425.
Akibatnya berdasarkan data terbaru BPS (Mei 2026), jumlah pekerja informal di Indonesia telah mencapai 87,74 juta orang (59,42%). Ini menunjukkan bahwa saat sektor formal menyusut akibat PHK dan otomatisasi, masyarakat bergerak ke sektor mandiri—meski dengan jaminan sosial yang lebih rendah. Kita melihat semakin banyak orang yang menjadi freelancer, pengusaha mikro, hingga pekerja bebas di sektor pertanian dan jasa.
Sebagai respon agar tidak adanya pengangguran baru setelah lulus dari kampus, pemerintah meluncurkan Program Magang Nasional 2026 dengan kuota yang naik 50% menjadi 150.000 peserta. Tujuannya: Menutup celah antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan industri yang berubah cepat akibat AI dan peserta mendapatkan sertifikat BNSP sebagai bukti kompetensi nyata, bukan sekadar teori.
Banyak perusahaan besar ikut dalam magang nasional, meskipun masih ada pertanyaanm soal anggaran yang disiapkan untuk peserta magang nasional yang semakin bertambah. Tugas berat Menaker Yassierli sangst kompleks. Yassierli adalah Guru Besar ITB yang juga ahi Ergonomics, Rekayasa Kerja, dan Keselematan kerja. Dari seorang pendidik menjadi menteri.
Peralihan ini menuntut pergeseran dari intelektualitas murni ke empati kebijakan. Kebijaksanaan yang dibutuhkan bukan lagi sekadar menghitung angka pengangguran, melainkan memahami kecemasan seorang ayah atau ibu yang kehilangan pekerjaan atau seorang lulusan baru yang CV-nya terus ditolak. Menteri dalam posisi ini harus bertindak sebagai jembatan yang memastikan teknologi digunakan untuk memanusiakan manusia, bukan membuangnya.
Berikut perbincangan Azis husaini Produser KontanTV dengan Menteri Ketenagakerjaan Profesor Yassierli di Ruang Kerjanya.
#kontan #kontantv #kontannews #PHK #SatgasPHK #Ketenagakerjaan #TenagaKerja #EkonomiIndonesia #Pengangguran #BuruhIndonesia #IndustriIndonesia #KrisisEkonomi #DayaBeli #LapanganKerja #BeritaEkonomi #KabarNasional #UpdateIndonesia #BreakingNews #BeritaHariIni #NewsUpdate #FaktaEkonomi #IndonesiaUpdate #HeadlineNews