Operasi militer skala besar terjadi di Venezuela. Dalam hitungan jam, ratusan pesawat militer Amerika Serikat bergerak dari berbagai pangkalan. Targetnya bukan instalasi militer, bukan pangkalan senjata, melainkan langsung Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beserta istrinya. Semua dijalankan secara cepat, senyap, dan terkoordinasi.
Kepala Staf Gabungan Militer Amerika Serikat, Letnan Jenderal Daniel Razin Caine, memaparkan secara rinci jalannya operasi militer tersebut.
Operasi dimulai atas perintah langsung Presiden AS Donald Trump pada 2 Januari pukul 10.46 waktu setempat. Dalam waktu singkat, 150 pesawat militer dikerahkan secara serentak dari 20 pangkalan berbeda. Skala operasi ini menunjukkan tingkat kesiapan dan koordinasi militer yang sangat tinggi.
Personel militer yang terlibat berada dalam rentang usia 20 hingga 49 tahun, mencerminkan kombinasi pasukan muda dan berpengalaman. Setelah fase pergerakan udara, helikopter pembawa tim khusus diterbangkan menuju target.
Sekitar pukul 01.01 dini hari waktu Caracas, helikopter mendarat untuk menjalankan misi utama: menjemput Presiden Nicolás Maduro dan istrinya. Operasi berlangsung cepat dan terukur.
Dalam prosesnya, sempat terjadi insiden udara. Salah satu pesawat dilaporkan tertembak, namun tetap mampu kembali ke pangkalan dengan selamat. Hingga misi berakhir, tidak ada laporan korban dari pihak tentara Amerika Serikat.
Seluruh armada yang terlibat berhasil menyelesaikan misi dan kembali ke pangkalan pada pukul 03.29 pagi. Presiden Maduro kemudian dilaporkan ditahan di kapal perang USS Iwo Jima, sebuah kapal amfibi milik Angkatan Laut AS.
Operasi ini menjadi sorotan global karena menunjukkan eskalasi serius dalam hubungan Amerika Serikat dan Venezuela. Penahanan kepala negara dalam sebuah operasi militer lintas wilayah menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas politik regional, keamanan Amerika Latin, dan peta geopolitik internasional.
Selain itu, keberhasilan operasi tanpa korban dari pihak AS memperlihatkan perubahan pola operasi militer modern: cepat, presisi, dan minim eksposur publik.
Situasi seperti ini mengingatkan pentingnya masyarakat mengikuti informasi dari sumber resmi dan tidak terpancing spekulasi. Di tengah konflik internasional, imbauan otoritas selalu menekankan kewaspadaan terhadap disinformasi, terutama di media sosial.
Bagi publik global, memahami kronologi berbasis data membantu melihat isu secara utuh, tidak terjebak narasi sepihak, serta lebih siap menghadapi dampak ekonomi dan politik yang mungkin menyusul dari ketegangan internasional.
#Venezuela #Maduro #BreakingNews #MiliterAS #DonaldTrump #OperasiMiliter #Geopolitik #AmerikaLatin #BeritaInternasional #USS_Iwo_Jima #NewsUpdate #GlobalSecurity #KonflikGlobal #WorldPolitics