Suntikan investasi asing langsung senilai US$1,4 miliar ke Danantara membuka peluang besar bagi percepatan elektrifikasi desa berbasis tenaga surya di Indonesia. CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut pabrik panel surya dan komponen pendukungnya ditargetkan selesai pada akhir 2026, sehingga bisa menjadi tulang punggung program penyediaan listrik untuk 80.000 desa. Meski target kapasitas PLTS nasional diturunkan dari 100 gigawatt menjadi 13 gigawatt, proyek ini tetap diposisikan sebagai langkah strategis untuk mempercepat produksi panel, menekan biaya, dan memastikan pasokan teknologi surya tersedia untuk desa-desa yang sudah memiliki jaringan distribusi listrik.
Danantara sendiri sudah menguji model ini lewat desa percontohan di Sumenep, Jawa Timur, dengan PLTS berkapasitas 1 megawatt yang kini sedang dievaluasi untuk direplikasi ke daerah lain. Jika proyek berjalan sesuai rencana, dampaknya bisa sangat luas: listrik desa menjadi lebih terjangkau, subsidi energi negara berkurang, kemandirian energi daerah meningkat, dan ribuan lapangan kerja baru tercipta di sektor manufaktur maupun rantai pasok lokal. Tantangannya kini ada pada kesiapan infrastruktur distribusi, sinkronisasi regulasi, dan kemampuan pemerintah mengorkestrasi kolaborasi antara investor, swasta, kampus, dan daerah.
#Danantara #PLTS #TenagaSurya #ListrikDesa #EnergiTerbarukan #TransisiEnergi #RosanRoeslani #InvestasiAsing #ElektrifikasiDesa #KontanNews