KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Serangan Amerika Serikat ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) mengulang kejadian campur tangan pemerintahan Presiden Donald Trump ke urusan negara lain.
Sebelumnya, Trump memerintahkan pengeboman fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 untuk membantu sekutunya, Israel.
Kedua kejadian itu bahkan bukan hal asing bagi Trump, yang memang terkenal sering cawe-cawe kepentingan mancanegara.
Di pemilu Honduras, misalnya, Presiden ke-47 A-S itu secara terang-terangan mendukung kandidat dari kubu konservatif kanan, Nasry Asfura.
Ia pun mengancam Honduras akan mendapat konsekuensi serius jika otoritas pemilu terbukti menguntungkan lawan Asfura.
Padahal, Honduras adalah negara kecil yang secara geopolitik relatif tidak signifikan bagi Negeri Paman Sam.
Menurut Cathryn Cluver-Ashbrook, pakar transatlantik dari Yayasan Bertelsmann-Stiftung, Trump melihat posisinya sebagai orang nomor satu di Gedung Putih secara imperial.
Ia disebut menikmati saat dunia bergerak mengikuti kepentingan pribadinya, bukan semata-mata berdasarkan prinsip kebijakan luar negeri klasik A-S.
Salah satu kawasan yang menjadi fokus dominan dalam kebijakan luar negeri Trump adalah Amerika Latin.
Politisi Partai Republik itu disebut kerap menggunakan pendekatan tekanan militer dan diplomasi koersif di wilayah tersebut.
Pakar itu juga menyinggung soal pertukaran mata uang senilai 20 miliar dollar AS (Rp 334,32 triliun) antara Amerika dan Argentina yang diprakarsai Trump, untuk membantu Presiden Javier Milei mengatasi krisis likuiditas negaranya.
Ini menunjukkan munculnya kebijakan baru yang sudah lama tidak dilakukan A-S terhadap negara-negara tetangganya di Amerika Latin dan Selatan.
Namun, intervensi Trump tidak hanya terjadi di Amerika Latin.
Di Eropa, Trump secara terbuka mendukung sejumlah pemimpin dan partai nasionalis yang kerap berseberangan dengan kebijakan Uni Eropa.
Di Polandia ia mendukung Karol Nawrocki, sedangkan di Hongaria Trump menyatakan dukungan bagi Viktor Orban.
Di Jerman, hubungan antara Pemerintah A-S dan partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) disebut semakin dekat.
Bahkan, Washington disebut menginstruksikan diplomatnya di Eropa untuk mendorong diberlakukannya kebijakan migrasi lebih ketat.
Organisasi konservatif yang dekat dengan gerakan Make America Great Again (MAGA) seperti Heritage Foundation, juga aktif melobi untuk melawan kebijakan iklim Uni Eropa.
Organisasi ini dikenal luas sebagai pihak yang menerbitkan Project 2025, dokumen yang memuat skenario perombakan sistem pemerintahan A-S jika Trump menjabat kembali.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________