KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Amerika Serikat (AS) dikabarkan telah mengirimkan pesan rahasia kepada Israel terkait persiapan rencana serangan militer terhadap Iran.
Laporan ini pertama kali diwartakan oleh media Israel, Channel 14, sebagaimana dilansir Middle East Monitor, Rabu (28/1/2026).
Dalam pesan tersebut, Washington menguraikan garis besar mengenai linimasa dan kesiapan militer mereka di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan Channel 14, A-S memproyeksikan bahwa seluruh persiapan untuk melancarkan serangan terhadap Iran diperkirakan akan rampung dalam waktu sekitar dua pekan ke depan.
Pesan tersebut juga menyebutkan bahwa peluang atau momentum yang tepat untuk mengeksekusi operasi militer tersebut dapat muncul dalam waktu dua minggu atau beberapa bulan mendatang.
Meski persiapan teknis membutuhkan waktu, A-S menegaskan bahwa mereka tidak terpaku sepenuhnya pada jadwal tersebut.
Serangan bisa saja dilakukan lebih cepat dari estimasi yang ada apabila ada instruksi langsung dari Presiden Donald Trump.
Namun, untuk saat ini, opsi perintah mendadak tersebut dilaporkan belum masuk dalam pertimbangan utama. Sebagai langkah antisipasi, A-S terus memperkuat kehadiran militer mereka di Timur Tengah.
Saat ini, A-S mengerahkan kekuatan militernya dalam skala yang luas dan belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini memberikan militer A-S kebebasan hampir mutlak untuk menjalankan operasi militer kapan pun dibutuhkan sebagai bagian dari persiapan menghadapi Iran.
Di sisi lain, dua sekutu utama A-S di Teluk, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), secara tegas menyatakan tidak akan membantu Washington jika menyerang Iran.
Sikap ini menjadi hambatan diplomatik signifikan bagi pemerintahan Trump yang tengah mempertimbangkan opsi militer sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap para pengunjuk rasa di Iran.
Pada Selasa (27/1/2026), Arab Saudi resmi melarang penggunaan wilayah udara maupun teritorialnya untuk serangan AS ke Iran.
Langkah ini menyusul pernyataan serupa yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri UEA sehari sebelumnya, sebagaimana dilansir Wall Street Journal Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), menyampaikan posisi tersebut secara langsung melalui sambungan telepon kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Keputusan dua negara Teluk ini dianggap sebagai kemunduran kebijakan luar negeri bagi Trump.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________