KONTAN - https://www.kontan.co.id/
Konflik yang memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat bukan cuma soal geopolitik, tapi juga berpotensi mengguncang kantong rakyat Indonesia. Pemerintah sudah menyiapkan skenario, tapi apa artinya bagi harga BBM, subsidi, dan daya beli Anda?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa Jakarta telah menyiapkan beberapa skenario untuk mengantisipasi dampak konflik ini.
Kata Airlangga, sampai kapannya perang bisa tiga bulan, bisa enam bulan, bisa lebih. Jadi kita masing-masing sudah ada skenario.
Airlangga mengingat kembali pengalaman Indonesia saat perang Rusia?Ukraina memicu lonjakan harga minyak dan komoditas global. Saat itu, pemerintah harus menyeimbangkan antara menjaga stabilitas subsidi energi dan menghindari beban berlebih bagi masyarakat.
Menurut Airlangga, APBN berperan sebagai "buffer" untuk meredam fluktuasi harga. Pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi kita akan lanjutkan dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Jadi, meski harga komoditas naik, subsidi BBM dan listrik diperkirakan tidak akan langsung terhenti.
Di sisi lain, kenaikan harga komoditas global dapat meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Artinya, ada peluang tambahan pendapatan bagi negara, meski manfaatnya belum pasti dirasakan oleh konsumen secara langsung.
Airlangga menekankan bahwa masih terlalu awal untuk mengukur dampak pasti konflik terhadap ekonomi Indonesia.
Mengapa ini penting? Karena setiap fluktuasi harga minyak, gas, atau komoditas utama dapat memengaruhi inflasi, biaya hidup, dan bahkan kebijakan fiskal. Jika pemerintah tidak siap, beban dapat jatuh pada rumah tangga, terutama kelas menengah ke bawah.
#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________