Perjanjian dengan Rusia Berakhir, Trump Perkuat Senjata Nuklir AS


Rabu, 11 Februari 2026 | 17:30 WIB | dilihat

KONTAN - https://www.kontan.co.id/

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mengkaji perluasan armada nuklir dan uji coba senjata nuklir di bawah tanah setelah perjanjian pengendalian dengan Rusia berakhir.

Laporan tersebut diwartakan The New York Times, sebagaimana dilansir Anadolu Agency via Antara.

Mengutip sejumlah pejabat senior A-S, laporan itu menyebutkan bahwa A-S tengah meninjau beberapa opsi untuk menempatkan senjata nuklir tambahan dan mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali uji coba nuklir.

Langkah tersebut menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam kebijakan A-S yang selama puluhan tahun membatasi dan mengurangi jumlah hulu ledak nuklir yang disiagakan.

Pada 5 Februari, perjanjian New START atau perjanjian pengendalian nuklir antara A-S dan Rusia resmi berakhir.

Perjanjian pengendalian nuklir itu membatasi jumlah hulu ledak strategis yang boleh dikerahkan kedua negara, maksimal 1.550 unit.

Trump menolak perpanjangan informal yang diusulkan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pada hari yang sama, Trump mengatakan bahwa A-S seharusnya mengupayakan perjanjian baru yang lebih baik dan modern daripada memperpanjang New START dengan Rusia.

Wakil Menteri Luar Negeri A-S Thomas DiNanno, yang membidangi pengendalian senjata dan keamanan internasional, mengatakan dalam forum perlucutan senjata di Jenewa bahwa New START telah memberlakukan pembatasan sepihak terhadap A-S.

Dia juga menegaskan bahwa A-S kini bebas memperkuat kemampuan nuklirnya. Opsi lain yang sedang dipertimbangkan Trump adalah memaksimalkan kapasitas nuklir yang ada dan mengaktifkan kembali hulu ledak nuklir cadangan yang selama ini disimpan.

Salah satu langkah yang mungkin diambil adalah mengaktifkan kembali tabung peluncur rudal di kapal selam kelas Ohio milik Angkatan Laut A-S yang sebelumnya dibatasi oleh perjanjian.

Langkah itu memungkinkan A-S menyiagakan rudal balistik kapal selam.

Beberapa pakar menilai kebijakan itu bertujuan menekan Rusia dan China agar bersedia bernegosiasi dalam perjanjian baru untuk pengendalian senjata.

Pakar lain memperingatkan langkah A-S itu bisa memicu perlombaan persenjataan yang lebih luas.

Trump telah menyerukan dimulainya kembali uji coba nuklir yang disebutnya setara dengan yang dilakukan Rusia dan China. DiNanno bahkan menduga kedua negara itu telah melakukan uji coba nuklir berskala kecil yang sulit terdeteksi.

#kontantv #kontan #kontannews
________________________________________


Video Terkait

Logo Kontan
2018 © Kontan.co.id All rights reserved